Thursday, October 15, 2009

Kementrian Bencana Alam

Merujuk pada julukan bangsa lain tentang Indonesia bahwa negara kita disebut sebagai Disaster Supermarket, dan kenyataannya bahwa kita memang mengalami hampir semua jenis bencana alam, mungkin sudah saatnya kita, bangsa ini, melakukan kontemplasi yang mendalam terhadap kejadian bencana alam yang sering kita alami.

Kejadian bencana di Indonesia sudah merupakan bawaan orok, kondisi natural negara kita memang rentan terkena bahkan menjadi penyebab bencana global. 3 supervolcano yang letusannya merubah dunia dan iklim ada di Indonesia. Negara ini adalah mata cincin gunung api aktif dunia. Semburan lumpur di Sidoarjo volumenya belum pernah terjadi di bagian dunia lain. Indonesia mengalami jumlah korban tewas terbesar saat Tsunami lalu.

Disamping kondisi alam yang rentan bencana, kita dikaruniai kesuburan yang luar biasa, kekayaan alam yang tak terbatas, keragaman hayati yang paling beragam dibanding tempat lain di dunia. Lebih lagi karunia 250jt penduduknya.

Setelah sekian lama kita ngurusi orangnya, penduduknya, kita sadar bahwa, setiap saat bencana alam dapat menghilangkan wujud negara ngurusi warganya.  Begitu banyak kerugian ditimbulkan akibat bencana terhadap segala sesuatu yang sudah dibangun dan dibuat negara bagi kepentingan penduduknya. Begitu banyak dana dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan dan rekonstruksi baik sosial maupun infrastruktur yang bertahun tahun dibangun. Kita habiskan dana sekian banyak hanya untuk memperbaiki hal yang rusak akibat bencana, bukan untuk membangun dan menambah yang baru yang lebih baik bagi kehidupan rakyat setempat.

Saatnya kita menaruh respect lebih dalam pada alam kita sendiri, tempat di mana kita hidup ini. Tempat kita mengubur ari-ari kita dan keturunan kita. Bahkan tempat kita tidur selamanya nanti.

Bukti penghargaan dan penghormatan itu dapat di organisasi dan diimplemantasikan dalam tata pemerintahan. Mungkin sudah seharusnya dan saatnya Indonesia memiliki Menteri Alam dan Bencana. Ada departemen gunung aktif dan erupsi tanah, departemen longsor dan banjir, departemen gempa bumi, departemen tsunami dan pasang, departemen perubahan iklim dan cuaca, departemen konservasi dan departemen penanggulangan bencana. Semua memiliki sub departemen keilmuan dan prediksi dan sub departemen informasi dan sosialisasi.

Kalo dulu orang mencibir bangsa ini sebagai Disaster Supermarket, mungkin kelak kita akan dipuji sebagai Rescue and Predict Supermarket. Pusat acuan keilmuan terhadap perilaku alam dan tempat konsep pengembangan perangkat canggih pemantau dan peramal bencana dunia. Kenapa tidak??

Thursday, October 1, 2009

Nuclear Weapon Test Accelerated Global Climate Changing?

Mengacu pada Info ini, setidaknya telah dilakukan 1045+715+45+210+45+6+6+2+5=2079 kali test senjata nuklir sejak 1945. Itupun adalah laporan resmi, belum termasuk yang tidak resmi atau dirahasiakan. Percobaan itu dilakukan baik di permukaan tanah, di udara, bawah tanah dan bawah laut. 90% percobaan itu berkekuatan diatas kekuatan dari Bom Atom Hiroshima. Termasuk 10 percobaan nuklir terdahsyat yang pernah ada (berkekuatan 10-50 Megaton).

Secara alamiah bumi menerima juga radiasi kosmis dari luar angkasa termasuk matahari. Namun radiasi ini sebagian besar dapat dinetralkan oleh tameng sabuk magnetis van allen dan disaring ozon. Diciptakan untuk membendung efek radiasi dari luar bumi. Bagaimana dengan radiasi yang justru dibuat di bumi? Kemana perginya selain diserap oleh tanah dan atmosfer?

Dari inti bumi dipanaskan magma. Dari luar dipanaskan radiasi kosmis. Dari permukaan dipanaskan oleh aktifitas vulkanis dan manusia. Belum ada penelitian mendalam, mana lebih berpengaruh antara aktifitas Industri manusia sejak revolusi industri 3 abad lalu dimulai atau aktifitas peledakan jutaan megaton fusi+fisi+termonuklir sejata nuklir dalam 7 dekade belakangan.

Aktifitas vulkanis disertai turunnya suhu di bawah permukaan, efek ledakannya terserap oleh debu vulkanis, tanah yang terangkat memicu pertumbuhan ekosistem baru yang subur dan kaya. Alam memiliki mekanismenya sendiri untuk membuat iklim tetap stabil atas aktifitas yang dibuatnya.

Kalo aktifitas manusia? Sudahkah manusia memiliki aktifitas yang sebanding untuk menetralkan efek aktifitasnya sendiri? Apa yang terjadi dengan Plastik? Apa yang terjadi dengan Asbes? Apa yang terjadi dengan Bahan Bakar Minyak? Apa yang terjadi dengan material lain hasil industri? Bagaimana mereka kembali ke alam? Apakah tidak menimbulkan efek negatif bagi alam?

Minus aktifitas manusia. Butuh ratusan jutaan tahun untuk terjadinya perubahan iklim ekstrim seperti pernah terjadi pada masa purbakala sebelum manusia ada. Kehadiran manusia memberikan nilai tambah dengan merusak kestabilan alam dan mempercepat perubahan iklim sebagai cara bumi mencari titik stabil.

Industri juga menghasilkan radiasi, walaupun lemah. Tidak demikian dengan percobaan nuklir yang menimbulkan tidak hanya radiasi kuat namun juga partikel radioaktif yang butuh jutaan tahun untuk menjadi plumbum. Kalo bahan untuk PLN bisa ditanam di dasar laut atau tanah dengan perlindungan sangat aman sampai meluruh ribuan tahun lagi (kecuali ada gempa dasyat), bagaimana dengan partikel radioaktif yang dilepaskan saat percobaan nuklir (di tanah/udara/laut)? Kemana dan bagaimana efek radiasi akibat  percobaan tersebut dikompensasi oleh manusia? Ini contohnya.

Dalam Teori Chaos, kepakan kupu-kupu di hutan Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Kalo ledakan nuklir dianggap kepakan sayap kupu-kupu, tornadonya akan kayak apa?

Kalo manusia gagal melakukan kompensasi akibat aktifitasnya, tentu alam yang akan melakukannya. Masalahnya, apakah manusia tahan dengan cara alam memkompensasi gangguan atas kestabilannya akibat aktifitas manusia tersebut?? Manusia nampaknya hanya berusaha bisa lari menjauh. Mungkin sementara bisa tinggal di koloni di Mars??

Tidak ada ilmuwan yang dapat menjamin, seandainya saat ini emisi carbon industri di-shutdown semua, 5 tahun kedepan pencairan es di kutub dan menipisnya Ozon akan berhenti. Terlalu banyak hal yang kita tidak tahu.  Terlalu banyak hal bisa menjadi aktor (dalam Teori Chaos) yang dapat memicu suatu perubahan yang besar. Apakah para ilmuwan sudah pasti yakin bahwa aktor pemanasan dan perubahan iklim global adalah efek rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil?? Orisinalkah issue ini?? Bukan pengalih untuk tujuan industri tertentu atau pengalih dari penyebab utama sesungguhnya??

Chain reaction. Percepatan mungkin telah dipicu, sang kupu sudah mengepakkan sayap, kita tinggal menunggu tornadonya. Walaupun percobaan senjata nuklir telah dikurangi drastis, walaupun kupu-kupu itu sudah dijadikan souvenir, tornado itu sudah terbentuk sebagai bayi bencana. Tinggal menunggu waktu. Kita sedang merasakan bagaimana bumi mengeluh seperti seorang ibu hamil muda. Yang terberat belum terjadi. Nampaknya.

Sudah saatnya kita Tidak saling membenci dan bertengkar satu sama lain. Sudah saatnya kita lakukan Bailout untuk Bumi. Membantu Bumi mengkompensasi kesalahan-kesalahan kita sendiri.