Merujuk pada julukan bangsa lain tentang Indonesia bahwa negara kita disebut sebagai Disaster Supermarket, dan kenyataannya bahwa kita memang mengalami hampir semua jenis bencana alam, mungkin sudah saatnya kita, bangsa ini, melakukan kontemplasi yang mendalam terhadap kejadian bencana alam yang sering kita alami.
Kejadian bencana di Indonesia sudah merupakan bawaan orok, kondisi natural negara kita memang rentan terkena bahkan menjadi penyebab bencana global. 3 supervolcano yang letusannya merubah dunia dan iklim ada di Indonesia. Negara ini adalah mata cincin gunung api aktif dunia. Semburan lumpur di Sidoarjo volumenya belum pernah terjadi di bagian dunia lain. Indonesia mengalami jumlah korban tewas terbesar saat Tsunami lalu.
Disamping kondisi alam yang rentan bencana, kita dikaruniai kesuburan yang luar biasa, kekayaan alam yang tak terbatas, keragaman hayati yang paling beragam dibanding tempat lain di dunia. Lebih lagi karunia 250jt penduduknya.
Setelah sekian lama kita ngurusi orangnya, penduduknya, kita sadar bahwa, setiap saat bencana alam dapat menghilangkan wujud negara ngurusi warganya. Begitu banyak kerugian ditimbulkan akibat bencana terhadap segala sesuatu yang sudah dibangun dan dibuat negara bagi kepentingan penduduknya. Begitu banyak dana dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan dan rekonstruksi baik sosial maupun infrastruktur yang bertahun tahun dibangun. Kita habiskan dana sekian banyak hanya untuk memperbaiki hal yang rusak akibat bencana, bukan untuk membangun dan menambah yang baru yang lebih baik bagi kehidupan rakyat setempat.
Saatnya kita menaruh respect lebih dalam pada alam kita sendiri, tempat di mana kita hidup ini. Tempat kita mengubur ari-ari kita dan keturunan kita. Bahkan tempat kita tidur selamanya nanti.
Bukti penghargaan dan penghormatan itu dapat di organisasi dan diimplemantasikan dalam tata pemerintahan. Mungkin sudah seharusnya dan saatnya Indonesia memiliki Menteri Alam dan Bencana. Ada departemen gunung aktif dan erupsi tanah, departemen longsor dan banjir, departemen gempa bumi, departemen tsunami dan pasang, departemen perubahan iklim dan cuaca, departemen konservasi dan departemen penanggulangan bencana. Semua memiliki sub departemen keilmuan dan prediksi dan sub departemen informasi dan sosialisasi.
Kalo dulu orang mencibir bangsa ini sebagai Disaster Supermarket, mungkin kelak kita akan dipuji sebagai Rescue and Predict Supermarket. Pusat acuan keilmuan terhadap perilaku alam dan tempat konsep pengembangan perangkat canggih pemantau dan peramal bencana dunia. Kenapa tidak??
Kejadian bencana di Indonesia sudah merupakan bawaan orok, kondisi natural negara kita memang rentan terkena bahkan menjadi penyebab bencana global. 3 supervolcano yang letusannya merubah dunia dan iklim ada di Indonesia. Negara ini adalah mata cincin gunung api aktif dunia. Semburan lumpur di Sidoarjo volumenya belum pernah terjadi di bagian dunia lain. Indonesia mengalami jumlah korban tewas terbesar saat Tsunami lalu.
Disamping kondisi alam yang rentan bencana, kita dikaruniai kesuburan yang luar biasa, kekayaan alam yang tak terbatas, keragaman hayati yang paling beragam dibanding tempat lain di dunia. Lebih lagi karunia 250jt penduduknya.
Setelah sekian lama kita ngurusi orangnya, penduduknya, kita sadar bahwa, setiap saat bencana alam dapat menghilangkan wujud negara ngurusi warganya. Begitu banyak kerugian ditimbulkan akibat bencana terhadap segala sesuatu yang sudah dibangun dan dibuat negara bagi kepentingan penduduknya. Begitu banyak dana dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan dan rekonstruksi baik sosial maupun infrastruktur yang bertahun tahun dibangun. Kita habiskan dana sekian banyak hanya untuk memperbaiki hal yang rusak akibat bencana, bukan untuk membangun dan menambah yang baru yang lebih baik bagi kehidupan rakyat setempat.
Saatnya kita menaruh respect lebih dalam pada alam kita sendiri, tempat di mana kita hidup ini. Tempat kita mengubur ari-ari kita dan keturunan kita. Bahkan tempat kita tidur selamanya nanti.
Bukti penghargaan dan penghormatan itu dapat di organisasi dan diimplemantasikan dalam tata pemerintahan. Mungkin sudah seharusnya dan saatnya Indonesia memiliki Menteri Alam dan Bencana. Ada departemen gunung aktif dan erupsi tanah, departemen longsor dan banjir, departemen gempa bumi, departemen tsunami dan pasang, departemen perubahan iklim dan cuaca, departemen konservasi dan departemen penanggulangan bencana. Semua memiliki sub departemen keilmuan dan prediksi dan sub departemen informasi dan sosialisasi.
Kalo dulu orang mencibir bangsa ini sebagai Disaster Supermarket, mungkin kelak kita akan dipuji sebagai Rescue and Predict Supermarket. Pusat acuan keilmuan terhadap perilaku alam dan tempat konsep pengembangan perangkat canggih pemantau dan peramal bencana dunia. Kenapa tidak??