Jengah rasanya mendengar dan melihat bagaimana orang-orang yang merasa sok pintar dan sok tahu, berbicara dengan setengah membenarkan perilaku pemboman bunuh diri dengan alasan agamis.
Orang-orang ini gagal melepaskan diri dari pemikiran yang dikotomis mengenai kegiatan jahat dan pesan agama.
Kira-kira, seandainya ada sorga, kemampuan merakit bom dan meledakkan diri itu dipakai atau ndak, ya, di sana? Apakah sorga yang suci dan damai itu akan menggunakan sifat membenci yang sudah ditanamkan sejak muda hingga mati pada seorang pelaku bom itu di sorga? Ada manfaatnya ndak kemampuan membenci dan membunuh itu di sorga nanti? Kalo latihan terbanyaknya di dunia adalah membenci dan membunuh, kapan dia siap dengan kondisi sorga yang 100 persen positif, damai, membangun, menyembah dengan tulus, menyayangi sesamanya di sorga, tidak ada yang ingin saling menyakiti? Kapan lagi berlatih mengasihi dan menyayangi sesamanya kalo bukan di dunia?
Kegiatan jahat seperti ini tidak ada hubungannya dengan pesan agama. Kalo perlu, cari alasan lain yang bukan agama, asal bisa bikin teror. Islam sebagai agama justru hanya dimanfaatkan, ditunggangi, dikerdilkan oleh pikirian-pikiran orang-orang dan kelompok-kelompok jahat seperti ini. Jika perlu, mengkafirkan sesama Muslim untuk membenarkan perilaku dan pikirannya. Hebatnya, masih saja ada orang yang membela pikiran seperti ini.
Kalo menang, Entitasnya yang terkenal, kalo kalah, Islam yang ditonjolkan.
Kalo Negara Islam, no way, negeri ini bukan milik Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll, negeri ini milik semua orang yang ari-ari-nya tertanam di bumi Indonesia. Orang-orang itu tidak semuanya beragama Islam. Bahkan dulunya, nenek moyang kita adalah penganut animisme sebelum kemudian sebagian besar penduduknya memeluk Hindu. Sebuah Negeri Islami yang Demokratis, kita sudah membuktikannya dan so far so good. Jangan biarkan pikiran-pikiran sesat membawa negeri ini ke suasana seperti di Afganistan dengan Taliban-nya, atau bahkan Jalur Gaza dengan Hizbullah-nya. Apa faedahnya bagi dunia yang dipercayakan Tuhan bagi kita?
Ketika Jalur Gaza, yang bukan wilayah negara kita, diserang oleh Israel, ada orang yang nekat mau mati berangkat berperang ke Jalur Gaza. Tapi ketika pulau-pulau kita diklaim dan diganggu teritorialnya oleh negara Malaysia yang juga berpenduduk sebagaian besar Muslim, tak satupun demo dapat menandingi besarnya demo menghujat Israel?
Pikiran-pikiran jahat itu banyak berkeliaran di mana-mana, mengaburkan batas antara agama dan perilaku terorisme, mengaburkan batas antara agama dan entitas suatu negara, mengaburkan batas antara agama dan praktek politik nasional dan internasional. yang paling dekat, mengaburkan batas antara usaha meraih kekuasaan dengan ajaran agama.
Siapa yang mau datang berperang untuk Muslim Bosnia? Mana bantuan dari Negara Timur-Tengah dan Indonesia, sebesar keinginan hati membantu Palestina? Negara mana di dunia yang paling cepat dan banyak memberikan bantuan kemanusiaan pada Indonesia saat bencana Tsunami di Aceh? Swedia bukan negara Islam yang membantu pemulihan hubungan Aceh Indonesia. Negara mana di dunia yang paling banyak membantu pendanaan pendidikan pesantren di Indonesia? Siapa yang paling gigih menyuarakan dan memperjuangkan nasib suku Muslim Oighur di China ketika terjadai kerusuhan? Adakah setetes madu disumbangkan pada negeri ini dari kumunitas muslim Timur Tengah saat harga minyak memakmurkan negeri mereka? Investasi dari mana yang terbanyak membantu kita menyerap pengangguran di negeri ini? Bahkan, negara mana yang memberikan beasiswa belajar terbanyak ke negerinya untuk kebanyakan orang-orang hebat dari Indonesia? Negara mana yang paling memperjuangkan keanggotaan Indonesia di dewan keamanan PBB, negara mana yang justru bersaing untuk mendapatkan posisi itu?
Terorisme dan radikalisme bukan hanya persoalan dunia Islam, kedua hal tersebut juga menjamur di komunitas agama manapun yang lain di dunia. Terorisme is terorisme. Harus ditekan perkembangannya bersama-sama, bahkan jika mungkin ditiadakan, karena tidak senafas dengan pertumbuhan dan pembangunan menuju kondisi yang lebih baik dan tertib. Hanya chaos yang dihasilkan.
Jika disederhanakan, mana lebih manfaat, membelanjakan duit untuk membeli bahan peledak lalu bunuh diri atau membantu uang sekolah anak yatim agar bisa lulus dengan nilai tinggi? Kenapa kita tidak bisa jadi pelopor metode ekonomi syariah yang profesional dan jujur? Kok malah Singapura yang bukan negeri muslim yang dijadikan kiblat metode perbankan syariah? Apakah negeri muslim di Timur Tengah menerapkan ekonomi syariah sebagai panglima di negaranya? Apakah metode perbankan syariah yang diterapkan oleh bank-bank nasional kita benar-benar syariah, bukannya men-syariahkan bunga, bukannya hanya alat untuk menggaet pelanggan yang tidak paham?
Saat ini juga mulai tumbuh pikiran-pikiran seperti cara pandang kita terhadap konsumen narkoba di negara ini. Pelaku bom bunuh diri yang masih muda-muda itu hanyalah korban pengaruh buruk ajaran agama yang menyimpang. Suatu pemikiran yang berbahaya. Narkoba tidak sama dengan ajaran Islam. Siapa orangnya yang bisa menolak (dengan argumentasi agama yang belum matang) terhadap ajakan pelaku terorisme yang menggunakan ajaran Islam sebagai madu yang (tentu) diyakini kebenarannya tanpa perlu syarat bagi pemeluknya?
Jangan biarkan paham terorisme ini meng-abu-abukan batas hitam putih kriminalitas pembunuhan massal dan ajaran Islam yang penuh berkah dan damai itu. Jangan biarkan mereka menyebarkan dan mengembangkan pikiran dikotomis antara kejahatan dan ajaran agama. Ini bukan hanya tanggungjawab umat Islam yang agama junjungannya dibelokkan penafsirannya, namun juga segenap pemeluk agama lain. Kenapa, terorisme adalah terorisme, kalo gagal menunggangi Islam, ya tunggangi Kristen, tunggangi Katholik, tunggangi Hindu, tunggangi Budha, dll, karena musuh, bagi mereka adalah Amerika dan semua teman dan kepentingannya.
Amerika adalah musuh bersama menurut paham terorisme, bahkan Amerika diserukan adalah musuh Islam! Hebat, apakah Amerika sebuah agama? Atau, apakah Islam sebuah negara? Suatu pemikiran yang sangat tidak Apple to Apple tentang entitas. Pandangan ini justru syirik karena menyamakan Amerika yang hanya sebuah teritori negara terhadap Islam yang tidak punya teritori alias universal, mencakup semesta dan dimiliki Tuhan sendiri menurut pemeluknya. Begitu kuatnyakah Amerika sehingga Agama alam semesta ini perlu berperang dengannya, perlu karena Amerika mampu membunuh Islam yang punya Tuhan itu?
Kebalikannya, tentu tidak ada satupun pemeluk Islam dalam mashab manapun setuju jika Islam adalah sebuah entitas negara? Hal yang sama konsepnya untuk menyebarkan paham Dunia Barat dan Dunia Islam. Barat ya bandingannya Timur, ajaran agama ya bandingannya ajaran agama. Dalam ilmu apologetika agama tidak ada diskusi tentang ajaran barat dan ajaran Islam, kan? Yang ada ya, ajaran Islam dan Kristen Protestan, ajaran Islam dengan ajaran Hindu, dst.
Sebab di barat pun ada Islam, Turki adalah negara eropa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Bosnia adalah negara muslim di Eropa juga. Sedang dunia Islam itu terbentang dan terbagi di banyak kontinen, yang secara demografi dan ekonomi memiliki pilihan yang independen sesuai arah ekonomi regional dan global. Dunia Barat tidak melulu berisi non muslim, kalo mengacu pada demografi, kalo mengacu kekristenan, sama halnya dengan Islam yang juga tersebar ndak hanya ada secara demografi di bagian barat, tapi di semua benua. Kalo mengacu pada kapitalisme, sudah disebutkan di muka, semua negara mengacu pada pasar ekonomi global yang menggunakan paham kapitalisme untuk berkomunikasi ekonomi secara universal, sama halnya dengan kesepakatan penggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi bahasa global. Adalah hak setiap negar untuk menerapkan sistem ekonomi yang sesuai dengan kondisi negaranya. Kapitalisme tidak menentang prinsip ekonomi nasional, baik itu agamis maupun komunis.
Kapitalisme hanyalah alat bagi sebuah negara yang pintar seperti China yang sistem politiknya komunis untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam negerinya dan perannya dalam ekonomi global. Kapitalisme justru sebagai kuda tungganagan bagi Singapore untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai negara perdagangan termaju di dunia.
Kembali kepada dikotomi Amerika musuh Islam. Kenyataan menunjukkan bukan 911 yang bikin Amerika terpuruk, bukan perang Iraq yang bikin Amerika jatuh, bukan biaya pertempuran di Afganistan yang membuatnya merana. Ketamakan pelaku ekonominya sendirilah yang menyebabkan terjadinya krisis financial hebat di Amerika. Greedy, kerakusan, hal yang sama yang bisa saja terjadi di faham ekonomi lain, syariah, misalnya. Bukan faham ekonominya yang salah, tapi kerakusan dan ketamakan pelakunyalah yang membuat kejatuhan itu.
Jika prinsip ekonomi syariah saat ini menjadi buah bibir karena ketahanannya dari krisis global akibat kredit perumahan di Amerika, itu hanyala masalah waktu. Masih sedikit orang mengerti dan menggunakan prinsip ekonomi ini. Jika semua orang sudah menguasai prinsip ekonomi ini nantinya, bukan tidak mungkin muncul Madock-Madock lain nanti yang bisa memanfaatkan celah-celah yang ternyata ada akibat penerapan prinsip ini.
Kenapa ndak belajar saja mengendarai kapitalisme dan berhasil seperti China? Tidak perlu bom nuklir untuk mengalahkan Amerika, tahun ini China merupakan pemilik saham IMF terbesar. Kalo kita mau menghujat IMF, siapa lagi sesungguhnya yang kita hujat? Volume perekonomian China bakal memampukan China menerapkan mata uang global pengganti USD dalam dekade depan, selangkah lebih baik dari Euro.
Kenapa ndak belajar saja seperti Singapore, yang bisa mengemas pohon-pohon makam varietas asli Indonesia dengan harga puluhan kali lebih mahal dari harga belinya dari Indonesia? Ada berapa banyak yatim yang seharusnya bisa sekolah tinggi dan pintar menjadi tertutup nasibnya karena orang tuanya mati kena bom bunuh diri?
Di satu sisi, kita dianggap paling berhasil dalam penanggulangan terorisme, namun di sisi lain, siapapun sangat mudah mendapat informasi dan pengajaran terorisme dan radikalisme di negara ini, bahkan bisa dibeli murah di pedagang-pedagang buku kaki lima! Lebih mudah belajar jadi teroris daripada hanya ingin mengetahui tentang komunisme.
Paranoid terhadap PKI jauh lebih hebat dari ketidaksetujuan terhadap terorisme. Padahal PKI cuma partai, kalaupun bisa ada, tidak ada lagi tujuan yang relevan bisa diterapkan dan tercapai dalam kondisi Indonesia dan Global seperti ini. Sekarang ini, siapa mau jadi komunis? Kalaupun menganut paham atheis, orang akan tetap mencantumkan nama salah satu agama di KTPnya, kok. Apa ada yang mau dipanggil untuk diajari menjadi komunis? No religion, no way! Indonesia gitu, loh.
Maksudnya, tantangannya lebih sulit untuk membendung paham terorisme daripada hal lain termasuk komunisme, korupsionisme, nepotisme, dan hipokritisme. Dikarenakan pandangan-pandangannya yang meng-abu-abukan batas antara ajaran agama yang berlaku universal dan kekal dengan kepentingan lahiriah yang oprtunistik dan tidak kekal.
No comments :
Post a Comment