Dalam sebuah dialog di TVOne, seorang petinggi DLLAJR menegaskan hal itu. Bahwasannya, jalan lalu-lintas utama kita (Pantura, Jalur selatan, Lintas Sumatra, Lintas Kalimantan, Angkutan Kapal dan penyeberangan, Kereta Api, Pesawat Terbang, dll), tidak dirancang dan dibuat untuk keperluan Angkutan Lebaran.
Hebat, luarbiasa! Saya yang tidak ikut lebaran dan mudik saat Lebaran saja, ikut dongkol dengan pernyataan tersebut. Lalu selama ini jalanan dan transportasi kita ini didesain untuk apa?? Hla, kalo untuk satu moment saja tiap tahun, elemen transportasi kita tidak bisa memenuhinya, bagaimana mungkin akan lancar untuk tiap moment sepanjang tahun untuk angkutan barang dan penumpang? Hla, wajar, kalo tiap tidak ada ruas jalan utama yang mulus sepanjang tahun. Wong untuk sekali setahun saja tidak didesainkan, apalagi untuk sepanjang tahun?
Lebaran ini sudah ada sejak nenek-moyang sang petinggi tersebut lahir. Adalah kewajiban pemerintah melalui perangkat kerjanya untuk menyempurnakan sarana-prasarana transportasi nasional. Kalo memang kepadatan lalu-lintas Lebaran sangat luar biasa, bukankah, situasi itu sudah diketahui sejak sebelum merdeka?? Hla, kenapa tidak merancang moda angkutan dan jalan yang sesuai dengan kepadatan puncak?? Apa jalan hanya diplaning untuk pejalan kaki?? Atau angkutan dokar??
60 tahun sejak merdeka, masih saja uyel-uyelan di kereta api ekonomi. 60 tahun sejak merdeka, masih saja memperbaiki jalan saat Lebaran. 60 tahuns sejak merdeka, masih saja ada jalan utama yang parah rusaknya. 60 tahun sejak merdeka, masih saja tega mengurangi kualitas jalan demi uang di kantong. 60 tahun sejak merdeka, masih saja ada pungli di jalan utama dan angkutan penyeberangan. 60 tahun sejak merdeka, masih juga belum mendesain moda angkutan dan transportasi nasional untuk angkutan masal. Wong sudah tahu penduduk kita bukan ribuan atau jutaan, penduduk Indonesia ini ratusan juta. Wong yo sudah tahu, kalo sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, tentu perayaan Lebaran adalah kehebohan luar biasa, karena dirayakan oleh sebagian besar penduduk negara ini. Wong ya sudah tahu ada puluhan juta pemudik tiap tahunnya. Kok masih tidak tahu bagaimana dan untuk keperluan apa sarana-prasarana transportasi Indonesia ini seharusnya didesain? Hla, selama menjabat itu kerjanya apa??
Rakyat kita ini sabarnya luarbiasa. Sudah setahun berusaha menabung untuk biaya pulang. Sudah setahun menahan diri untuk memeluk sanak-keluarga. Sudah setahun bekerja sangat keras dan digaji pas-pasan. Sudah setahun menahan stress karena kehidupan kota besar yang tak pernah santai. Pulang mudik dengan kondisi angkutan yang penuh sesak dan kewajiban menjalankan puasa. Belum lagi copet-copet yang justru makin nekat menjelang Lebaran. Tambah lagi pungli dan kenaikan harga tiket yang tidak wajar. Dan lain-lain yang tidak menyenangkan. Saudara-saudara kita ini tetap melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat tujuan. Dengan sangat luar biasa berusaha tetap bersyukur dan sabar sepanjang perjalannan yang macet dan padat.
Apa yang sudah dikerjakan oleh pejabat-pejabat itu di atas sana untuk mereka?? Sementara banyak organisasi swasta justru mendorong kepatuhan pengendara.
Hebat, luarbiasa! Saya yang tidak ikut lebaran dan mudik saat Lebaran saja, ikut dongkol dengan pernyataan tersebut. Lalu selama ini jalanan dan transportasi kita ini didesain untuk apa?? Hla, kalo untuk satu moment saja tiap tahun, elemen transportasi kita tidak bisa memenuhinya, bagaimana mungkin akan lancar untuk tiap moment sepanjang tahun untuk angkutan barang dan penumpang? Hla, wajar, kalo tiap tidak ada ruas jalan utama yang mulus sepanjang tahun. Wong untuk sekali setahun saja tidak didesainkan, apalagi untuk sepanjang tahun?
Lebaran ini sudah ada sejak nenek-moyang sang petinggi tersebut lahir. Adalah kewajiban pemerintah melalui perangkat kerjanya untuk menyempurnakan sarana-prasarana transportasi nasional. Kalo memang kepadatan lalu-lintas Lebaran sangat luar biasa, bukankah, situasi itu sudah diketahui sejak sebelum merdeka?? Hla, kenapa tidak merancang moda angkutan dan jalan yang sesuai dengan kepadatan puncak?? Apa jalan hanya diplaning untuk pejalan kaki?? Atau angkutan dokar??
60 tahun sejak merdeka, masih saja uyel-uyelan di kereta api ekonomi. 60 tahun sejak merdeka, masih saja memperbaiki jalan saat Lebaran. 60 tahuns sejak merdeka, masih saja ada jalan utama yang parah rusaknya. 60 tahun sejak merdeka, masih saja tega mengurangi kualitas jalan demi uang di kantong. 60 tahun sejak merdeka, masih saja ada pungli di jalan utama dan angkutan penyeberangan. 60 tahun sejak merdeka, masih juga belum mendesain moda angkutan dan transportasi nasional untuk angkutan masal. Wong sudah tahu penduduk kita bukan ribuan atau jutaan, penduduk Indonesia ini ratusan juta. Wong yo sudah tahu, kalo sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, tentu perayaan Lebaran adalah kehebohan luar biasa, karena dirayakan oleh sebagian besar penduduk negara ini. Wong ya sudah tahu ada puluhan juta pemudik tiap tahunnya. Kok masih tidak tahu bagaimana dan untuk keperluan apa sarana-prasarana transportasi Indonesia ini seharusnya didesain? Hla, selama menjabat itu kerjanya apa??
Rakyat kita ini sabarnya luarbiasa. Sudah setahun berusaha menabung untuk biaya pulang. Sudah setahun menahan diri untuk memeluk sanak-keluarga. Sudah setahun bekerja sangat keras dan digaji pas-pasan. Sudah setahun menahan stress karena kehidupan kota besar yang tak pernah santai. Pulang mudik dengan kondisi angkutan yang penuh sesak dan kewajiban menjalankan puasa. Belum lagi copet-copet yang justru makin nekat menjelang Lebaran. Tambah lagi pungli dan kenaikan harga tiket yang tidak wajar. Dan lain-lain yang tidak menyenangkan. Saudara-saudara kita ini tetap melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat tujuan. Dengan sangat luar biasa berusaha tetap bersyukur dan sabar sepanjang perjalannan yang macet dan padat.
Apa yang sudah dikerjakan oleh pejabat-pejabat itu di atas sana untuk mereka?? Sementara banyak organisasi swasta justru mendorong kepatuhan pengendara.