Monday, November 17, 2008

Premanisme Orang Berseragam

Anton Medan bertanya, mana lebih banyak, orang salah di dalam penjara atau orang salah yang ada di luar penjara?  Sindiran atas instruksi Kapolri untuk memberantas para preman.

Jika saya ada di acara reality show tersebut, saya pasti akan balik bertanya, menurut Anda, lebih banyak mana orang baik di luar penjara daripada orang jahat di luar penjara?

Musuh kita bukan mereka yang dipenjara, tapi orang jahat di luar penjara.  Karena lebih banyak orang yang lebih senang jika tidak ada perilaku preman di lingkungannya. 

Mereka menjadi preman karena mereka merasa masih banyak orang-orang baik dan itulah sumber penghasilannya.  Kalo lebih banyak orang jahat daripada orang baiknya diluar penjara, siapa bisa dipremani?  Jadi, lingkungan penjara yang sebagian besar orang jahat, akan sertamerta menghentikan perilaku premanismenya, bahkan dia bisa justru menjadi korban preman penjara.

Sudut pandang berbeda adalah, bahwa razia ini akan mengembalikan daerah kekuasaan palak pada preman berseragam dari cengkeraman preman bertato yang pada tiarap takut dirazia petugas.

Inilah masa panen mereka setelah sekian lama direbut atau terpaksa bagi hasil dengan preman bertato.

Jukir resmi yang menjual karcis parkir berulang-ulang, satpam perumahan dan perkantoran yang menarik parkir dan uang keamanan ilegal, bertambahnya ongkos pemantauan perumahan atau pertokoan ke kas polsek setempat.  Termasuk duit lebih bagi petugas di jalan yang rawan macet oleh sopir yang ngetem, atau ongkos mel-melan yang naik di jembatan timbang antar kota atau terminal, karena tidak ada preman yang setor lagi pada mereka untuk sementara waktu. Atau justru karena tidak perlu bagi hasil lagi dengan mereka untuk sementara waktu.

Jukir resmi pemkot/swasta, petugas Dishub, petugas Polantas, petugas PD pasar, Satpam ruko/perum, Hansip kampung, Supir dan kondektur angkutan umum, petugas tiket tempat umum pemerintah/swasta. Saat ini mereka sedang memasuki masa panen.

Rakyat jelata, penjual di pasar, pengguna angkutan umum, penhuni Ruko dan Perumahan serta kampung, pengguna lahan parkir, pengantri tiket, pengguna fasilitas publik. Menjadi lebih merasa aman karena kemungkinan ditusuk dan dibogem lebih kecil oleh preman bertato, namun bisa jadi ongkos keamanan justru naik significant, karena mereka yang berseragam tersebut menjadi punya hak monopoli tarif tidak resmi, tidak ada kompetitor yang juga ditakuti jika duel person to person tanpa seragam.

Filosofinya, masih lebih banyak orang baik daripada orang jahat di luar penjara. Jadi, premanisme musti diberantas tuntas, mulai dari yang bertato hingga yang berseragam, bahkan hingga yang berdasi dan bersafari.  Wong sudah kerja, gaji sudah naik, dapat pensiun serta kemudahan kredit lagi.  Masak masih malak orang lain? Begitu tidak bersyukurnya orang-orang seperti itu.

Kenapa Bukan Ortunya?

Perkawinan perempuan di bawah umur. Kalo semua lakon di peristiwa ini dijajar untuk diadili di akhirat, saya yakin hukuman terberat akan jatuh bukan pada yang melamar, apalagi pada yang dilamar.

Hukuman paling berat seharusnya dijatuhkan justru pada orang tua yang diberi tanggung jawab oleh Sang Semesta untuk memelihara dan mengawal putrinya hingga masa yang pantas untuk kawin (bukan dikawinkan) dicapai.

Alasan ekonomi tidak masuk dalam buku kehidupan semesta, sehingga dapat dibenarkan seseorang mengorbankan anaknya atau membiarkan anaknya menjadi korban phedophilia orang dewasa. Seberapun resmi atau sesuainya dengan aturan yang diyakininya sesuai dengan agama yang dianutnya.

Egoisme ortu yang dibungkus iming-iming seakan-akan demi kebaikan anaknya sendiri, adalah sangat laknat di mata semesta. Orang yang semestinya berani berkorban memberikan daging tubuhnya sendiri demi hidup anak-anaknya, justru berani mengorbankan daging anaknya demi perutnya sendiri.

Tidak salah jika saking muaknya Beliau Yang Esa, maka dijatuhkannya nasib buruk dan bencana bagi negeri ini, sebab bagian terkecil dari bangsa ini, bagian yang paling dekat dengan Sang Semesta, justru menjadi bagian yang paling menyedihkan hatinya.

Jika saya seorang anggota Dewan yang berpengaruh, saya akan berjuang mengajukan revisi UU Anak, agar memasukkan hukuman terberat pada Ortu yang lalai, membiarkan, mendorong, bahkan menjual anak2nya yang masih dibawah umur, menjadi istri orang baik resmi ataupun siri.  Hukumannya harus sama dengan teroris atau pelaku subversi.

Daripada semua warga bangsa ini, yang tinggal di NKRI ini, tidak ikut dihukum Sang Semesta termasuk pemerintahnya.

Friday, November 7, 2008

Money Laundry Lumpur Lapindo

Seandainya 2 Ilmuwan wakil Indonesia di adalah juga korban lumpur lapindo dan bukan pekerja di Lapindo Brantas, barangkali mereka tidak ngeyel dengan pendapatnya bahwa pemicu bencana tersebut adalah gempa Jogja. Sampai-sampai pemimpin forum memutuskan untuk voting.

Penjara sudah menanti, jika pengusutan oleh kepolisian diteruskan. Ilmu yang tinggi membawa tanggungjawab yang tinggi pula. Sudah tahu ada 14 Mud vulcano di Jatim dan 1 di Sidorajo, hla kok nekat ngebor tanpa persiapan yang adekuat bahkan extra hati-hati di sana? Siapa yang memberi saran metode pengeborannya? Persiapan atas kemungkinan terjadi hal yang paling buruk juga ndak ada atau ditiadakan.

Siap-siap jadi wakil Lapindo Brantas di penjara.

Dan entah resmi atau tidak, pemerintah kita justru menyimpulkan bahwa triggernya adalah patahan watukosek yang diakibatkan gempa Jogja.

Negara tidak memihak rakyat. Negara lebih memihak Lapindo. Untungnya, Presiden kita ini cukup bijaksana, mau mendesak DPR untuk mengeluarkan dana talangan lebih dulu bagi korban, yang nantinya harus diganti Bakrie Corporation.

Entahlah, setelah kejatuhan saham group Bakrie, bagaimana nasib dana rakyat itu.  Jangan-jangan balik dalam bentuk penyertaan saham yang kemudian perusahaannya dijual murah ke pasar, yang ujungnya ternyata ke group Bakrie sendiri.

Money Laundry tingkat tinggi.

Thursday, November 6, 2008

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan III

Masih lanjutan dari teori II.

Lampu kuning adalah lampu peringatan untuk menambah kecepatan sesegera mungkin sebelum lampu berubah menjadi merah.

Lampu kuning adalah lampu peringatan untuk maju sebelum lampu hijau menyala.

Lampu kuning bukan lagi lampu peringatan untuk mengurangi kecepatan sebelum lampu merah menyala. Dan bukan lagi lampu peringatan untuk waspada sebelum lampu hijau menyala tanda kendaraan boleh mulai maju.

Tidak berpikir bahwa mungkin pengendara lain dari arah lain juga berpikiran sama, jadinya tubrukan di tengah2. Jika lampu kuning tidak berfungsi, maka lampu merah terpaksa di langgar juga, karena tidak mungkin berhenti mendadak, dan menyalahkan rusaknya lampu jika kena tilang. 

Berita tertangkapnya pelaku korupsi bukan peringatan untuk tiarap dan menghentikan perilaku buruk pungli dan korupsi. Namun justru sinyal untuk sesegera mungkin mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum pemeriksaan diberlakukan.

Sementara aturan-aturan baru yang cenderung menambah lubang2 kesempatan korupsi dan atau melanggar hak asasi belum juga disahkan dan diterbitkan aturan pelaksanaannya, buru-buru diperdakan atau diterapkan dalam tata kelola pemerintahan di daerah bahkan di pusat. Walaupun tinjauan hukum sedang diajukan. Atau masih ada polemik tajam di masyarakat.

Rakyat nampaknya tidak terlalu keberatan dengan penerapan teori manajemen pemerintahan seperti ini? Bukankah orang kebanyakan, yang bukan bagian dari penyelenggara negara, juga berperilaku yang sama seperti itu di jalan raya?

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan II

Melanjutkan teori pertama.

Jika dia berada di barisan terdepan pada sebuah perempatan dengan traffic light, maka dia akan bergerak maju setelah mendengar klakson dari pengendara di belakangnya.

Ini agak kelihatan salahnya.

Indikator majunya dia adalah semata-mata bunyi klakson dari kendaraan di belakangnya. Biasanya dia pada posisi paling bersemangat nampaknya, karena selalu berada melewati garis marka jalan atau zebra cross, yang otomatis melewati garis pandangnya pada traffic light di samping atau atasnya.

Ada bunyi klakson berarti saatnya maju, walaupun lampu belum hijau. Tidak ada indikator pembanding lain sebelum mengambil keputusan untuk maju.  Selalu berasumsi kendaraan dari arah lain akan serta merta berhenti atau mengurangi kecepatan walaupun dari kejauhan nampak kendaraan dari arah lain tersebut tidak mengurangi kecepatan.

Bunyi klakson selalu dianggap sinyal untuk maju menyeberangi perempatan. Jarang terpikir bahwa klakson dari pengendara di belakangnya tersebut berbunyi karena tidak sengaja tersenggol, atau hanya peringatan agar dia agak maju atau minggir. Atau bahkan hanya pemberitahuan bahwa ada sesuatu dari kendaraannya yang membahayakan dirinya (misal, standard samping yang lupa ditekuk, kedip lampu arah sign belok yang tidak sesuai dengan arah belok kendaraannya). Bahkan lebih konyol lagi, klakson tersebut hanya klakson untuk menyapa dari kendaraan temannya di barisan belakang.

Tidak akan maju kalo tidak dengar bunyi klakson dari kendaraan di belakangnya, walaupun lampu sudah hijau.

Sama nggak dengan tata cara pelayanan public di negara ini?

Tidak berubah kalo tidak ada demo. Baru bikin pasar di suatu area kalo jalanan di area tersebut sudah macet dan penuh dengan pedagang sayur-mayur. Bergerak setelah ada persoalan, tidak ada tindakan untuk perencanaan dan prediksi apalagi solusi, jika tidak ada persoalan, walaupun dugaan akan timbul masalah sudah dirasakan atau bisa dirasakan dengan menerapkan metode2 ilmiah.

Sama nggak, dengan tata cara pengelolaan ?

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan I

Ini mengenai perilaku seorang pengendara di traffic light di negaraku, Indonesia. Ini analogi yang saya anggap pas dengan perilaku penyelenggara negara di negaraku tercinta ini. Sebuah teori yang diolah dan dibuat dari experience, bukan experiment.

Jika dia (pengendara tersebut) berada di barisan belakang dari pengendara lain, dia akan menunggu pengendara di depannya maju sebelum dia sendiri maju.

Apa yang salah?

Tidak ada yang salah, jika dia memperhatikan rambu lalu lintas yang belum menyala hijau, sementara pengendara di depannya yang diketahuinya berada melewati garis pandang pengendara tersebut ke traffic light (otomatis kelihatan karena melewati garis marka atau zebra cross), sudah maju walaupun lampu belum menyala hijau.

Indikator maju atau tidak, semata-mata adalah pergerakan pengendara di depannya, bukan traffic light. Keputusan pembanding hanyalah kondisi perempatan yang sepi atau tidak, ada atau tidak ada kendaraan lain melaju dari arah lain. Jika sepi, ikut maju. Bahkan sekalipun tidak cukup sepi (satu-dua lewat), tetap ikut maju, karena pengendara di depannya sudah maju jalan.

Sama nggak dengan perilaku para penyelenggara negara ini dalam mengelola pemerintahan dan melakukan fungsi regulasi?

Wednesday, November 5, 2008

Black Man in White House

Ternyata demokrasi itu benar nyata.

Bahkan di sebuah negara sebesar Amerika yang dianggap jadi embahnya demokrasi, banyak orang termasuk saya memandang demokrasi hanya sebuah retorika ideal tanpa implementasi senyatanya.

Bahkan demokrasi dianggap sebagai alat pembenaran terhadap kepentingan dan egoisme Amerika di kancah Internasional.

Hari ini, kita melihat Amerika ternyata bukanlah sebuah entitas tunggal besar yang dapat diwakili oleh kebijakan pemerintahnya atau presidennya semata.

Amerika terdiri dari sebagian besar people yang ternyata sangat-sangat mengerti apa itu demokrasi yang sesungguhnya, dan sungguh-sungguh berjuang untuk menjadi lebih demokratis dengan damai.

Ternyata demokrasi dapat diraih tanpa tekanan dan kekerasan. Tanpa perang dan intimidasi.

Ternyata hegemoni kekuasaan mayoritas terhadap minoritas dapat ditaklukkan dengan cara yang demokratis tanpa mengorbankan kualitas dan menyimpan dendam.

Ternyata demokrasi mampu pula memberikan peningkatan kualitas kebijakan, person pemimpin dan tingkat kesejahteraan umum sesungguhnya bagi bangsa sebesar Amerika secara nyata.

Ternyata demokrasi bisa menjadi jalan paling ideal saat ini untuk melakukan perubahan menuju ke arah lebih baik dengan implikasi rasa sakit dan pengorbanan paling sedikit.

Ternyata demokrasi bisa menjadi alat yang lebih efektif dan paling efisien untuk maju dibanding upaya teror dan perang, dalam memperjuangkan suatu kepentingan mulia bagi sebagian besar penganutnya.

Ternyata perbedaan SARA bukanlah hambatan untuk bersama-sama bergerak maju menjadi lebih baik dan beradab.

Amerika bukan presidennya. Amerika bukan pemerintahnya. Amerika adalah rakyatnya. Rakyat Amerika yang berdaulat menentukan arah kebijakan bangsa bagi hidup lebih baik, sebagai rakyat sekaligus pemilik sesungguhanya negara Ameriak khususnya, juga sebagai bagian dari rakyat dunia umumnya.

Betul bahwa kemenangan Obama sesungguhnya adalah hanya simbol dari kemenangan rakyat Amerika.

Sebagian besar warganegara Amerika ternyata telah menang terhadap issue SARA dan berhasil menempatkan setiap orang yang tidak sama dengan dirinya adalah juga sama derajat dan kesempatannya seperti halnya dirinya sendiri.

Era diplomasi dan demokrasi. Era kebangkitan  rakyat berpenghasilan menengah ke bawah. Era young people yang penuh ceria dan warna. Era hidup berdampingan tanpa kekerasan. Era manusia tanpa sekat SARA. Era kaum moderat.  Era tanpa kekerasan dan perang.  Era kebebasan dan penghargaan atas keberagaman.  Yang sesungguhnya. Sedang dimulai dan disulut oleh negara adidaya demokrasi.  United State of America.

Kapan menular ke Indonesia?

Monday, November 3, 2008

Earth Speaks

Sudah lama dia ingin bicara, namun manusia terlalu sibuk dengan kepentingannya sendiri.  Sudah lama dia ingin manusia mengerti, namun manusia lebih suka mengerti dirinya sendiri.  Sudah lama manusia menyakiti Bumi, namun manusia mengabaikan hal itu begitu saja. Lihatlah, jika Tuhan memihak Bumi dan membiarkan Bumi menggeliat dan berbicara lantang.

Manusia hanya debu dan tidak ada sangkut-ITpautnya dengan usaha Alam untuk survive dan menyeimbangkan diri.  Bukan Alam yang harus mengikuti maunya manusia yang cuma bisa mengeksploitasi dirinya. Justru manusialah yang seharusnya menyelaraskan diri dengan Bumi. Manusia harus mengerti posisinya. Ketidakpeduliannya hanya akan membuat Bumi makin dirugikan dan menjadi sakit hati.

Al Gore telah mencoba menjadi Jurubicara Bumi.

Jika Anda kesasar di Blog ini dan tertarik mendapat hardcopy DVD rip An Inconvenient Truth (jika Anda kesulitan mencari Link Download di Internet dan store yang menjual DVD documenter ini), Anda dapat memperolehnya dengan menyampaikan comment perminataan.  Biaya dikenakan hanya sebagai pengganti ongkos beli keping DVD+ongkos copy+ongkos kirim ke tempat Anda. Karena hanya DVD rip, maka DVD tidak bercover dan bergambar, bahkan tidak bersubtitle Indonesia. Anda dapat melengkapinya sendiri jika mau. DVD documenter ini layak jadi koleksi keluarga.

Penyebarluasan DVD Documenter ini bukan untuk tujuan komersial.  Semata-mata ditujukan untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya hidup mesra kembali dengan Alam.