Friday, October 31, 2008
Smart Politic Tactic
Tuesday, October 28, 2008
Mc.Cain Menang?
Dugaan saya yang tidak berdasar hitung2an ilmiah.
Masa W.Bush bagi saya nampak sebagai pemerintahan di persimpangan jalan. Pemerintahan abu-abu, yang di satu sisi nampak agresif namun di sisi lain sangat diplomatis.
Kondisi terkini perekonomian AS merupakan ujian yang tidak disangka-sangka walaupun sudah diramalkan. Inilah saat dimana para pelaku pasar di sana memutuskan, untuk sadar atas ketamakan dan kerakusannya, atau justru merasa tidak bersalah dan mencari jalan agar tetap dapat mengambil untung sebesar-besarnya dalam kondisi jatuh miskin.
Jika keputusan kedua yang diambil, maka pasar membutuhkan pemimpin yang lebih agresif dari W.Bush. Tidak hanya menyangkut kebijakan dalam negeri namun justru lebih nampak di politik luar negeri. Kampanye Mc.Cain lebih banyak berisi serangan pada Obama. Kualitas serangan itu lebih baik dari kualitas penjelasannya tentang masa depan Amerika.
Kapitalisasi sektor riil AS yang jauh lebih besar dari pasar modal dan uangnya, memberi kekuatan pada Obama untuk mendapat dukungan kalangan menengah ke bawah yang merupakan bagian terbesar populasi penduduk AS dibanding para pemilik modal kaya.
Namun, kekuatan uang mungkin saja dapat membalikkan fakta kemenangan Obama di atas kertas. Karena sistem EV yang digunakan di pemilu AS. Atau (ini gila), Obama dipanggil Tuhan sebelum menjabat.
Ini bukan pertarungan antara yang jahat dan yang baik. Ini adalah waktu penaburan bibit yang baik atau yang buruk. Jika bibit yang buruk yang ditanam, masih ada waktu untuk mencabutnya (pada pemili-pemilu berikutnya) sebelum menjadi pohoon yang sulit ditebang. Namun bibit bagi AS adalah pohon Eak bagi negara2 lain, termasuk Indonesia. Tidak perlu menunggu menjadi pohon di negara asalnya, bibit yang berkecambah saja sudah mampu merontokkan ekonomi Indonesia dan negara-negara lain yang lebih kecil.
Issue rasisme dapat memberi efek yang tidak terduga. Issue ini dapat saja dipicu oleh kerusuhan2 kecil sporadis bernuansa rasis di AS. Kerusuhan2 kecil yang dibiayai oleh pemilik modal kaya dapat membelokkan opini public terutama swing voter di saat-saat terakhir pemungutan suara. Pemilik2 modal ini adalah mereka yang hampir gagal melanggengkan kerakusannya, dan kawatir dengan kebijakan ekonomi Obama yang tidak memihak mereka, bahkan cenderung menghukum dan membatasi mereka.
Maka jika skenario ini terjadi, maka bisa dipastikan bibit2 buruk berupa spora2 akan menyebar ke seantero dunia, dan menanamkan diri melalui Pemilu2 di berbagai negara setelah Pemilu AS. Karena kemajuan tehnologi informasi dan broadcasting, maka pertumbuhan bibit2 itu akan lebih cepat menjadi pohon dan berakar kuat.
Tidak perlu waktu ratusan tahun untuk menuai kekacauan yang lebih besar, cukup beberapa tahun atau puluh tahun saja. Karena pupuk tehnologinya sudah siap dan sangat advance. Pupuk yang hebat bagi bibit yang baik maupun yang buruk.
Efek domino hasil pemilihan presiden AS tidak akan diterima dengan segera, namun dapat dirasakan akselerasinya seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.
Pertanyaannya siapkah Indonesia?
Saturday, October 25, 2008
Wajah Indonesia 2009
Seperti meramal wajah bayi nanti kayak apa setelah dia lahir, dengan melihat wajah janinnya.
Adakah Partai yang Calon Legislatifnya tidak ada yang bermasalah? Bekas narapidana, sedang proses hukum, ijasah palsu, beristri lebih dari satu, dicalonkan partai lain, duda atau janda cerai, anggota keluarga terlibat kriminal atau narkoba, sedang menjabat sebagai PNS, rekam jejaknya ada pengalaman terlibat korupsi.
Adakah Partai yang selalu tepat waktu memenuhi syarat administrasi dan jadwal KPU?
Adakah Partai yang dapat memenuhi semua syarat administratif yang diminta KPU baik administratif Partai maupun Caleg-nya?
Adakah Partai yang secara terbuka mengumumkan Calegnya dan meminta publik melakukan verifikasi prestasi dan kekurangan calon-calonnya?
Kenapa hanya soal Partai dan Caleg?
Unsur genetik politik yang tidak bisa diubah-ubah dan bersifat permanen, itu alasannya.
Jika gen-nya sudah busuk, diperlukan perjuangan yang keras dan panjang, kalo tidak bisa dibilang sia-sia, bagi rakyat untuk membuat Indonesia bisa hidup normal dan ber-akselerasi mencapai kemajuan.
Rakyat dipersilahkan memilih buah-buah yang paling tidak busuk dari semua yang sudah busuk sejak dari pohonnya. Jika tidak sejak sekarang LSM-LSM dan publik menaruh perhatian yang ekstra untuk menyaring bibit-bibit buruk itu.
Kalo rakyat menolak membeli buah-buah busuk dan memilih kelaparan daripada keracunan, maka kesudahannya akan tiba.
Golput yang lebih besar dari jumlah pemilih akan menimbulkan bencana politik yang besar bagi pemenang pemilu baik legislatif maupun presiden.
Separatisme yang tidak terduga akan mencuat di daerah-daerah. Dukungan internasional akan mudah didapat oleh mereka untuk meminta referendum. Dunia internasional sedang mencari cara berkelit dari resesi global, dan konflik di suatu negara memberi peluang baru ketersediaan pasar yang loyal dan sumber daya alam yang lebih murah.
Jika tidak demikian, maka mungkin terpaksa ada pemilu baru atas desakan dunia internasional yang dibumbui kepentingan nasional mereka sendiri atas aset mereka di Indonesia dan sumber daya alam Indonesia sebagai kompensasi bantuan untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi dalam negeri yang kolaps karena hilangnya kepercayaan public akibat tingginya golput.
Tidak ada persiapan khusus atas kemungkinan skenario terburuk yang mungkin terjadi tahun depan. Hal ini seperti daging mentah yang tak dilindungi bagi macan-macan kelaparan.
Setiap negara sedang kehausan. Sedang kita sibuk menyiapkan hidangan tanpa pelindung. Bahkan kita menyiapkannya dengan sembarangan dan tangan kotor.
Kemuakan sedang meningkat temperaturnya. Rakyat mulai mual melihat begitu berdedikasinya orang-orang berduit negeri ini berebut tulang kekuasaan dan ketenaran. Begitu bersemangatnya berbebut tulang, meninggalkan dan tidak peduli anak-anaknya yang menjerit-jerit meminta susu dan sekarat di tengah terik matahari.
Wajah yang mengawali kebangkitan baru Indonesia. Atau wajah yang mengawali kematian Indonesia yang kedua. Seperti jamuan makan malam terakhir bagi segerombolan narapidana sebelum dihukum mati. Atau jamuan makan pertama bagi keluarga mempelai sebelum resepsi besar bersama tamu-tamu kehormatan.
Pilihan itu kita tentukan sekarang.
Saatnya Menuju Pasar Bebas Terbatas?
Ramalan akan keruntuhan ekonomi pasar bebas, sudah disampaikan penerima nobel ekonomi tahun ini.
Penyebab utama bukanlah sistem itu sendiri, namun justru oleh ketamakan subyek sistem.
Jikapun ada pilihan sistem baru, maka tidak ada jaminan bahwa sistem baru itu akan tidak mengalami keruntuhan diujung evolusinya.
Seperti halnya kehidupan selalu menemukan jalannya, setiap persoalan selalu ada jawabannya. Maka ketamakan juga akan selalu menemukan caranya untuk menjadi makin tamak.
Perbaikan dengan Bailout? Barangkali bukan solusi tepat, karena dana itu dikumpulkan dari sektor riil juga. Efek domino yang lebih parah akan terjadi sangat menyakitkan bagi mereka di sektor riil yang tidak ikutan bermain derivative. Special jika keruntuhan ini terjadi pada raksasa utama rider neoliberalisme-kapitalisme.
Memang, sumber daya alam mungkin akan dapat menyelamatkan kebangkrutan ekonomi, namun tidak ada jaminan kejatuhan global yang terjadi sekarang ini tidak bakal terjadi lagi lebih cepat siklusnya daripada saat pertama neoliberalisme pasar modal dan uang dimulai. Equilibrium Pasar Bebas sebenarnya hanya angan-angan. Hanya acuan ideal tanpa pernah tercapai dengan kondisi steady. Justru Not Equilibrium-lah yang menggerakkan ekonomi pasar global. Seperti soal hitungan rumus relatifitas yang tidak pernah menggunakan variable kecepatan cahaya yang absolute, namun selalu bernilai mendekati.
Bagaimana dengan Pasar Bebas Terbatas?
Negara memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi regulasi terhadap pasar. Bukan dalam rangka menuruti kehendak pasar, namun membatasi gurita ketamakan subyek pasar yang terlalu bersemangat membuat turunan-turunan baru mekanisme dagang yang berpeluang menghancurkan lebih banyak pemain daripada pemain di sektor riil-nya sendiri yang jadi obyek dagang awal.
Alasan demografis dan kultur serta kurangnya pemerataan tehnologi global dapat menjadi acuan, mengapa globalisasi tarif perlu ditinjau ulang. Sebab pada dasarnya kebijakan tarif yang sama jadi obyek permainan para pemain pasar uang dan modal yang lebih suka kemudahan dalam bertransaksi dan memperoleh keuntungan dengan cepat tanpa hitungan yang ruwet.
Negara mengatur dengan seksama hubungan yang ideal antara sektor riil dan non-riil. Dimana negara mengusahakan keberlangsungan hidup dan perkembangan sektor riil yang sebisa mungkin makin steril dari aksi dagang di sektor non-riil.
Kenyataannya hubungan ideal seperti itu tidak mungkin/sangat sulit diwujudkan dalam kondisi perekonomian yang menganut rezim pasar bebas dan global.
Mungkinkah negara menciptakan pasar sendiri yang independent terhadap pasar global untuk menjamin keberlangsungan gerak ekonomi sektor riil? Pasar ini adalah pasar darurat yang dibuat kecil saat pasar non-riil membaik, namun dibuat besar saat kondisi pasar non-riil menunjukkan gejala-gejala bubble atau resesi global menunjukkan tanda-tandanya.
Fleksibilitas traktat perjanjian tarif dan dagang antar negara harus ditekankan dalam perundingan bersama. Sementara segala peraturan dan undang-undang bidang industri dan perdaggangan baik sektor riil maupun non riil dalam negeri dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi fleksibel untuk diubah dengan cepat menuju pasar bebas terbatas dalam rentang waktu dan kapitasisasi yang bersifat sementara hingga pasar non-riil yang kolaps dan resesi global berangsur-angsur teratasi.
Bank dan Lembaga Keuangan non-Bank dapat menjadi centrum pengaturan relasi sektor riil dan non riil, sehingga didapat kondisi dimana gejolak pasar non riil tidak menghantam sektor riil.
Kata kuncinya adalah fleksibilitas. Agar ketamakan dan kerakusan pemain dapat dibatasi. Yang dibatasi adalah sifatnya bukan orangnya, sebab mungkin saja mereka yang tidak tamak dan berada pada posisi regulator juga mungkin menjadi tamak karena tergoda ego-nya sendiri. Yang akhirnya justru membuat perkonomian mengarah pada konsep Pasar Tertutup.
Perekonomian berpaham sosialis-komunis yang liberal seperti China (saat ini mungkin bisa disebut NeoKomunis, komunisme-kapitalis), atau Ekonomi Kapitalis-Sosialis ala Rusia, atau Ekonomi Pasar Bebas Terbatas ala Indonesia.
Atau ada yang mau bilang NeoKeynesianisme?
Global Warming, bisa di-Stop?
Tuesday, October 14, 2008
Kiamat Pada 21 Desember 2012?
Sunday, October 5, 2008
Saya Ingin Memiliki
Kapitalisme Ganti Lead Rider ?
Mungkin terlalu jauh untuk meramalkan keruntuhan kapitalisme. Kemungkinan terjauh yang bisa dinalar adalah pergeseran pemeran utama. Itupun jika pemerintah US gagal merestrukturisasi dampak resesi perekonomian yang sedang dialaminya. Kapitalisme itu kejam, pun itu terhadap pemiliknya sendiri, jika perlu, demi kelangsungan hidup sistem itu sendiri.
Jika Pemerintah US ternyata mampu mengendalikan resesinya, efek domino resesi itu masih akan bisa terlalu berat diterima oleh negara-negara lain yang lebih lemah perekonomiannya pada masa ini. Kondisi global saat ini tidak lebih baik dari kondisi saat resesi global sebelumnya.
Kekuatan-kekuatan ekonomi baru bermunculan dan berhasil men-driving kapitalisme dengan begitu baik dan lihai. Eropa Barat, Eropa Timur dan Timur Tengah, serta China, mulai berhasil menampakkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi baru yang mengendarai kapitalisme juga.
Pasar yang berkembang demikian pesatnya karena pertumbuhan infrastruktur yang makin memadai dan dijadikan fokus pembangunan di negara-negara yang kurang maju pada masa ini oleh pemimpin-pemimpin negeri yang makin bijak, tidak mengijinkan kapitalisme ambruk. Bahkan Kuba dan Amerika Latin pun sudah tidak lagi alergi Kapitalisme, belum lagi Korut. Mereka menemukan rahasia yang sama yang ditemukan oleh para pendahulunya (Rusia dan China) untuk men-driving kapitalisme alih-alih melawan kekuatannya yang sudah menglobal.
Dollar akan segera digantikan Euro atau Yuan ? Tidak sejauh itu nampaknya, sebab akan menimbulkan goncangan kebangkrutan ekonomi yang besar di seluruh dunia, termasuk pada negara-negara kapitaslis baru. Namun, mungkin terjadi Dollar tidak dapat menopang nilainya sendiri lagi. Dollar hanya nilai simbolis atas gabungan kekuatan matauang-matauang kuat dunia saat ini. Seperti keputusan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang ditentukan oleh kelima anggota tetapnya. Demikian nilai US Dollar akan ditentukan oleh tarik-ulur kepentingan negara negara kuat baru. Mungkin kekuatan-kekuatan ekonomi baru tersebut akan berhasil memaksa US melepas Dollarnya demi menjaga agar perekonomian dunia tidak bangkrut. Dan tentu US akan memiliki mata uang baru yang tidak lagi rentan mempengaruhi ekonomi global karena berlaku mandatori terhadap US Dollar yang telah diserahkan pada kekuatan kapitalis-kapitalis baru.
Kebangkrutan Amerika, ya, kehancuran kapitalisme, tidak.
Jika Amerika tidak mau dipaksa dan terpaksa menerima tekanan macan-macan baru, maka satu-satunya jalan bagi US untuk mempertahankan hegemoni perekonomiannya adalah melakukan penguasaan baru sumber daya alam sebanyak mungkin.
Iran dan Korut mungkin bakal menjadi next troops expansion. Issue ancaman terorisme dapat menjadi alasan invasi. Konflik di Afrika harus dimanagemeni dengan baik untuk mendapat keuntungan dari sumber alam yang ada di daerah konflik. Rusia lebih peka terhadap kondisi ini, maka setelah melakukan perhitungan matang, dia berani melawan US di Georgia. Alasan keamanan nasional adalah alasan yang dibuat untuk dunia. Masing-masing pihak tahu bahwa sumber daya alamlah alasan sesungguhnya. Irak dan Iran lebih penting daripada Afganistan yang kering sumber daya alam.
China dan Rusia harus mengejar kemampuan dalam pencitraan satelit untuk mengetahui deposit-deposit baru sumber daya alam di dunia, sehingga bisa menyusun langkah-langkah diplomatik jangka pendek dan panjang yang damai untuk mendekati dan mendapat keuntungan harga pada titik-titik deposit yang menjadi teritori negara lain. Hal yang sudah lama dilakukan oleh US. Bahkan Jepang mulai merobust penelitiannya di bidang antariksa. Sebab jika bukan untuk mencari minyak, kemampuan itu diperlukan untuk mencari bahan bagi keperluan membangun industri hybrid dan non hydrocarbon.
Dunia akan dan sudah mulai menjadi kue bersama bagi lima pemegang hak veto di UN. Eropa dan India, termasuk negara-negara kaya di Timur Tengah dan Asia yang tidak masuk anggota tetap akan mati-matian menduga-duga dan mencari tahu alasan sesungguhnya dibalik keputusan DK UN dan mengapa sebuah daerah menjadi konflik dan harus dibawa ke DK. Mereka harus mengejar kemampuan tehnologi yang sebanding untuk membendung kepentingan tersembunyi negara pemegang hak veto.
Setidaknya mereka harus memiliki kemampuan ekplorasi dan eksploitasi yang mandiri, sehingga menjadi tidak rugi luar biasa jika deposit yang ditemukan di wilayahnya diekploitasi.
Hal tersebut sebenarnya bukan cerita baru. Namun perkembangan ekonomi global saat ini membuat upaya-upaya penguasaan sumber daya lama itu makin nampak menonjol dan terang-terangan, kurang mengindahkan sopan santun diplomatik dan regional. Disamping kepandaian rata-rata para pemimpin negara yang nampaknya makin meningkat dan bersikap makin kritis.
Pertanyaannya, bukan bagaimana Indonesia bersikap terhadap kondisi seperti ini. Namun mungkin lebih tepat, di mana Indonesia akan memposisikan diri. Sebab hanya itu yang bisa ditanyakan jika Indonesia tidak juga melakukan tindakan apapun yang signifikan untuk mandiri dari pengaruh buruk kapitalisme. Mandiri menjadi sesuatu yang berbeda secara konsisten atau menjadi rider-nya kapitalisme seperti macan-macan baru. Tidak lagi menjadi ekornya kapitalisme.
Mengapa Selalu Ada Misteri Alam
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. Kenang-kenangan dari masa laampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.
Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tidak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.
Ini adalah perkataan seorang Raja yang hikmatnya melebihi gabungan para penerima penghargaan Nobel hingga hari ini dan kesuksesannya melebihi gabungan 100 orang terkaya di dunia versi Forbes.