Actress, pekerja seni. Di Indonesia konotasi artis dan seniman sangatlah berbeda. Artis lebih dekat ke celebritis sedang seniman lebih mengarah ke pelawak, peludruk, peteater dll.
Artis jadi pejabat. Jadi Anggota DPR Pusat, Bupati, Gubernur, Wagub, Wabup, anggota DPRD, Caleg. Fenomena yang mengesankan di jagad perpolitikan negeri ini, sejak pemilu 2004.
Kenapa Artis? Kenapa bukan pekerja seni? Kenapa bukan buruh? Kenapa bukan petani? Kenapa bukan pekerja? Saya hanya menduga-duga dari dua sudut pandang, kenapa hanya 2, itu disebabkan karena dugaan saya pula bahwa kekuatan sesungguhnya yang mengendalikan kekuasaan adalah mereka ini.
1. OPORTUNISER
Dari sisi para oportunistik di sekitar kekuasaan, yang jauh lebih berkuasa dan pintar berkelit dan survive ditengah gempuran aturan dan pengawasan. Orang-orang cerdik yang bisanya hanya bersiasat mengendalikan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri. Bagi mereka, Artis memberi keuntungan ganda bagi karier dan kelangsungan hidupnya sendiri. Artis punya banyak fans dan memiliki wajah yang familier karena sering muncul di media. Orang desa lebih kenal Dorce daripada Agung Laksono, misalnya. Kedua, Artis, karena sifat pekerjaannya, maka mereka tidak lebih pandai berpolitik dan mengatur masalah ketatanegaraan dibanding para oportuniser. Maka para Artis lebih mudah ditipu dengan usulan dan program-program pembangunan yang nampaknya baik bagi rakyat, namun ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan para oportuniser sendiri. Mereka (para oportuniser) jadi lebih mudah melakukan hit and run untuk mengambil keuntungan, sementara tanggungjawab keputusan dilemparkan pada pundak si Artis pemimpin. Artis mudah dijadikan kambing hitam karena kebodohannya dalam dunia politik. Pengalaman mereka nol kilometer. Nurani saja akan tidak cukup kuat bertahan di tengah-tengah tikus-tikus rakus berbau busuk yang dulunya membantunya naik ke puncak kekuasaan berkedok hamster imut. Artis lebih mudah dimanfaatkan dan dijadikan kambing hitam untuk mengambil keuntungan dan meloloskan diri dari kemungkinan jeratan hukum suatu hari nanti. Ngeri kalo punya atasan seperti Bagir Manan. Pintar cari tambahan dan memanfaatkan orang sekaligus pintar berkelit dari jebakan.
2. RAKYAT TAK TERDIDIK
Tak terdidik di sini dimaksudkan adalah mereka yang tidak cukup mendapat pendidikan politik yang memadai dari negara dan lingkungan. Mereka adalah bagian mayoritas dari pemilih pada umumnya. Setelah merasa banyak dipinteri oleh orang-orang pinter di atas sana, mereka jadi apatis memandang calon yang terdidik. Terdidik di sini dimaksudkan adalah calon-calon yang melek politik sejak mudanya, tidak harus berpendidikan kelewat tinggi, namun mereka paham bagaimana membujuk dan merayu rakyat. Di mata mereka, Artis lebih bersih dan suci dibanding para politikus kawakan. Bahkan dibanding orang-orang pinter dari dunia akademik. Sesuai sifat pekerjaannya, artis diharapkan menjadikan rakyat sebagai pusat perhatian. Artis biasa mendedikasikan dirinya untuk menghibur pemirsa atau audience-nya. Mereka tidak dirancang untuk mengambil keuntungan dari fansnya. Mereka dituntut dapat memuaskan para penonton, kalo tidak mau hancur kariernya. Hal inilah yang menimbulkan penilaian bahwa Artis lebih bernurani dari politisi. Kalo Artis ini jahat, setidaknya mereka tidak lebih pinter berbuat jahat daripada para politikus. Kalo mereka gagal mensejahterakan rakyat, itu juga tidak jauh beda dari kinerja para politisi. Setidaknya ada penyegaran dan kemungkinan perubahan yang lebih baik, daripada mempercayakan kepemimpinan pada politikus yang sudah buram nama baiknya.
Kita pernah dipimpin Insinyur, jendral bintang lima, professor dari akademisi, kyai hebat, lulusan sma, doktor pertanian, dengan para pengusaha di sela-selanya. Semuanya belum maksimal membawa negeri ini menjadi memiliki harga diri yang pantas dan memadai, baik terhadap dirinya sendiri maupun dunia. Setelah semuanya yang dianggap pantas memimpin memperoleh kesempatannya, bukankah adil jika rakyat merasa sudah saatnya orang dari dunia seni, mungkin lebih tepat dari dunia entertain dan showbiz mendapat kesempatan yang sama untuk memimpin negeri ini? Mungkin nanti akan juga tiba saatnya mereka yang berusia muda-belia juga mendapat gilirannya untuk berperan memajukan negeri ini.
Yang tidak disadari oleh semuanya, bahwasannya kita semua sesungguhnya sudah merasa enjoy dengan kenyataan bahwa kepemimpinan dan kekuasanan di negara ini sebenarnya adalah lakon ketoprak, dan republik ini sesungguhnya hanyalah panggung pertunjukan. Kita sedang umek bermain peran dan menghibur diri sendiri.