Sunday, August 24, 2008

Artis Lebih Baik ?

Actress, pekerja seni. Di Indonesia konotasi artis dan seniman sangatlah berbeda. Artis lebih dekat ke celebritis sedang seniman lebih mengarah ke pelawak, peludruk, peteater dll.

Artis jadi pejabat. Jadi Anggota DPR Pusat, Bupati, Gubernur, Wagub, Wabup, anggota DPRD, Caleg. Fenomena yang mengesankan di jagad perpolitikan negeri ini, sejak pemilu 2004.

Kenapa Artis? Kenapa bukan pekerja seni? Kenapa bukan buruh? Kenapa bukan petani? Kenapa bukan pekerja? Saya hanya menduga-duga dari dua sudut pandang, kenapa hanya 2, itu disebabkan karena dugaan saya pula bahwa kekuatan sesungguhnya yang mengendalikan kekuasaan adalah mereka ini.

1. OPORTUNISER

Dari sisi para oportunistik di sekitar kekuasaan, yang jauh lebih berkuasa dan pintar berkelit dan survive ditengah gempuran aturan dan pengawasan. Orang-orang cerdik yang bisanya hanya bersiasat mengendalikan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri. Bagi mereka, Artis memberi keuntungan ganda bagi karier dan kelangsungan hidupnya sendiri. Artis punya banyak fans dan memiliki wajah yang familier karena sering muncul di media. Orang desa lebih kenal Dorce daripada Agung Laksono, misalnya. Kedua, Artis, karena sifat pekerjaannya, maka mereka tidak lebih pandai berpolitik dan mengatur masalah ketatanegaraan dibanding para oportuniser. Maka para Artis lebih mudah ditipu dengan usulan dan program-program pembangunan yang nampaknya baik bagi rakyat, namun ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan para oportuniser sendiri. Mereka (para oportuniser) jadi lebih mudah melakukan hit and run untuk mengambil keuntungan, sementara tanggungjawab keputusan dilemparkan pada pundak si Artis pemimpin. Artis mudah dijadikan kambing hitam karena kebodohannya dalam dunia politik. Pengalaman mereka nol kilometer. Nurani saja akan tidak cukup kuat bertahan di tengah-tengah tikus-tikus rakus berbau busuk yang dulunya membantunya naik ke puncak kekuasaan berkedok hamster imut. Artis lebih mudah dimanfaatkan dan dijadikan kambing hitam untuk mengambil keuntungan dan meloloskan diri dari kemungkinan jeratan hukum suatu hari nanti. Ngeri kalo punya atasan seperti Bagir Manan. Pintar cari tambahan dan memanfaatkan orang sekaligus pintar berkelit dari jebakan.

2. RAKYAT TAK TERDIDIK

Tak terdidik di sini dimaksudkan adalah mereka yang tidak cukup mendapat pendidikan politik yang memadai dari negara dan lingkungan. Mereka adalah bagian mayoritas dari pemilih pada umumnya. Setelah merasa banyak dipinteri oleh orang-orang pinter di atas sana, mereka jadi apatis memandang calon yang terdidik. Terdidik di sini dimaksudkan adalah calon-calon yang melek politik sejak mudanya, tidak harus berpendidikan kelewat tinggi, namun mereka paham bagaimana membujuk dan merayu rakyat. Di mata mereka, Artis lebih bersih dan suci dibanding para politikus kawakan. Bahkan dibanding orang-orang pinter dari dunia akademik. Sesuai sifat pekerjaannya, artis diharapkan menjadikan rakyat sebagai pusat perhatian. Artis biasa mendedikasikan dirinya untuk menghibur pemirsa atau audience-nya. Mereka tidak dirancang untuk mengambil keuntungan dari fansnya. Mereka dituntut dapat memuaskan para penonton, kalo tidak mau hancur kariernya. Hal inilah yang menimbulkan penilaian bahwa Artis lebih bernurani dari politisi. Kalo Artis ini jahat, setidaknya mereka tidak lebih pinter berbuat jahat daripada para politikus. Kalo mereka gagal mensejahterakan rakyat, itu juga tidak jauh beda dari kinerja para politisi. Setidaknya ada penyegaran dan kemungkinan perubahan yang lebih baik, daripada mempercayakan kepemimpinan pada politikus yang sudah buram nama baiknya.

Kita pernah dipimpin Insinyur, jendral bintang lima, professor dari akademisi, kyai hebat, lulusan sma, doktor pertanian, dengan para pengusaha di sela-selanya. Semuanya belum maksimal membawa negeri ini menjadi memiliki harga diri yang pantas dan memadai, baik terhadap dirinya sendiri maupun dunia. Setelah semuanya yang dianggap pantas memimpin memperoleh kesempatannya, bukankah adil jika rakyat merasa sudah saatnya orang dari dunia seni, mungkin lebih tepat dari dunia entertain dan showbiz mendapat kesempatan yang sama untuk memimpin negeri ini? Mungkin nanti akan juga tiba saatnya mereka yang berusia muda-belia juga mendapat gilirannya untuk berperan memajukan negeri ini.

Yang tidak disadari oleh semuanya, bahwasannya kita semua sesungguhnya sudah merasa enjoy dengan kenyataan bahwa kepemimpinan dan kekuasanan di negara ini sebenarnya adalah lakon ketoprak, dan republik ini sesungguhnya hanyalah panggung pertunjukan. Kita sedang umek bermain peran dan menghibur diri sendiri.

Friday, August 1, 2008

Pembunuh dan Terbunuh

Pembunuh berantai. Kata ini bisa berarti seorang pembunuh yang membunuh banyak orang bergiliran. Tapi orang Malaysia bisa mengartikannya sebagai seorang pembunuh yang menggunakan rantai untuk membunuh korbannya. Tentu dia mengacu pada ungkapan Koruptor Berdasi atau Ayam Bertaji.

Pada saat yang hampir sama ada kabar 18 orang mati karena pesta miras akibat oplosan yang tidak ilmiah. Bagaimana bisa berpikir ilmiah kalo mabuk?

Beda dua peristiwa yang buruk itu apa? Saya mencoba melihat dari akibatnya saja.

Even dari seorang pembunuh kita masih bisa melihat sisi positifnya. Tapi tidak untuk orang yang konyol dan bodoh yang berakibat bunuh diri.

Ratusan orang mendapat hidup dari kematian. Puluhan pedagang dapat kembali menghidupi anak-istri mereka dari orang2 yang datang ke rumah Ryan sang penjagal psikopat. Mungkin beberapa pejabat kepolisian di Jombang dan Polda Jatim akan naik pangkat karena terbongkarnya kasus ini. Banyak tetangga keluarga 11 korban yang bisa makan enak karena ada tahlilan atau kebaktian di rumah keluarga korban. Kalo di sana ada karcis parkir, Pemkab Jombang dapat pemasukan baru dari retribusi parkir di sekitar rumah ortu Ryan. Televisi yang menayangkan secara lengkap dan berseri kisah ini mendapat kenaikan rating. Berapa banyak orang TV dan Media Massa terjaga nasibnya dengan adanya berita kekejian ini? Belum kalo disebutkan kenaikan trayek bus dan angkutan umum menuju Jombang dan Jati Wates. Sopir2 batal demo karena kenaikan BBM dan rebutan trayek. Tak terbayangkan sebelumnya oleh para keluarga korban, mendapat kesempatan nampang di TV atau Media lain, bahkan sesungguhnya dapat menjual kisahnya ke Media sebagai ganti ongkos tahlilan. Saat ini tentu berkerumun para penulis2 yang tertarik mendokumentasikan kisah langka ini dalam sebuah buku dan menjualnya. Para penerbit mungkin sudah mengirim agen2 untuk menjajagi kemungkinan menerbitkan buku kisah pembunuhan ini dan meramalkan akan jadi best seller di kemudian hari. Ortu Ryan dan keluarga korban tentu tak pernah membayangkan bakal dapat pensiunan gratis dari royalti penjualan buku kisah pembunuhan Ryan, kecuali penulis bukunya koruptif. Jangan kaget kalo tiba2 jalan desa yang tak beraspal dan rusak kemudian jadi beraspal atau diperbaiki, pembangunan berjalan cepat di Jati Wates.

Masih ada hal positif dari kebiadaban ini yang bisa dinikmati orang lain.

Adakah hal positif, akibat dari terbunuhnya 18 nelayan di Sulawesi karena mabuk miras? Yang dirasakan langsung oleh orang2 disekitarnya bahkan yang tidak mengenalnya? Mungkin lebih baik mereka mati dibunuh oleh Ryan daripada mati karena pesta miras. Supaya mereka masih bisa diingat terkait dengan sebuah peristiwa langka dan namanya tercetak di buku2 best seller kisah2 pembunuhan yang langka di Indonesia.

Kematian oleh kesenangan yang didefinisikan sendiri tidak membawa nilai lebih bagi bumi. Tidak ada manusia yang mau mati karena dibunuh. Tapi begitu sia2nya hidup jika dia tidak memiliki dan memainkan peran apapun dalam interaksinya dengan manusia lain pada saat akhir masa hidupnya?

Itu sebabnya mungkin, Tuhan sangat membenci orang bunuh diri dan orang bodoh yang membiarkan dirinya dikuasai lingkungan dengan sukarela seperti 18 nelayan itu. Adam dibuang karena kesukarelaanya menerima saran Hawa dan menuruti bujukan ular si iblis.

Virus, ciptaan Tuhan termaju

Sampai hari ini saya masih kagum dan heran dengan apa yang namanya virus. Bukan virus komputer (walaupun itu juga kadang mengherankan). Mulai SD di pelajaran ilmu hayat sampai hari ini.

Letaknya di tangga evolusi masih diperdebatkan sampai saat ini. Dia tidak bisa disebut tumbuhan renik seperti bakteri. Bukan pula hewan seperti protozoa. Tidak punya ciri-ciri hidup yang lengkap. Hidup hanya kalo nempel jasad hidup. Mati kalo ndak ada induk semang. Cuma api yang menghanguskan saja yang bisa membunuhnya. Udara tidak penting untuk kelangsungan hidup spora. Air boleh ada atau tidak baginya.

Ada materi organik mati, lalu benda organik setengah hidup (virus), lalu benda organik hidup yang bisa mati. Nampaknya cocok virus jadi perantara antara evolusi organik mati ke organik hidup. Bahkan ada virus yang hanya berisi RNA tanpa DNA. Jadi nampaknya cocok dari mahluk RNA jadi mahluk dengan RNA dan DNA, kemudian jadi sel tunggal hidup, lalu jadi organisme kompleks, dan seterusnya jadi manusia.

Tapi, kenyataanya tentu tidak demikian. Bagaimana dia bisa berevolusi jadi sel kalo tidak ada sel sebelumnya yang bisa diinfeksi dan jadi media replikasi? Mutasi terjadi pada jasad hidup. tidak pada saat dia jadi cysta. Bagaimana virus yang hanya hanya ber-RNA bisa mensintesis DNA bagi dirinya kalo tidak ada DNA mahluk lain yang dijadikan bahan? Kenyataannya tidak ada virus dapat menginfeksi virus species lain. Manusia tidak mungkin diinfeksi lebih dari 1 virus yang bisa menyebabkan kematian. Sepertinya mereka punya kode etik sendiri antar species. Pendatang pertama adalah pemenang, dia baru minggir jika induk semang berhasil mengusir atau men-spora-kannya (tidak menghancurkan), kemudian memberi jalan pada virus lain, bisa hasil mutasi atau species lain yang lebih kuat untuk mengambil alih dominasi atas induk semang atau organ, yang jelas hanya satu untuk satu penyakit atau organ. Tidak mungkin satu kamar untuk berdua. Ini jadi inspirasi para pembuat serum yang tujuannya memberi info pada pendatang baru virus, bahwa sudah ada penghuni di tubuh induk semang, jangan masuk. Bahkan antivirus komputer model baru melakukan serumisasi seperti itu untuk mencegah virus beneran meng-infek.

Dia tidak berevolusi dari organik mati. Dia berevolusi dari organik kompleks. Dan tetap menjadi virus dengan RNA dan atau DNA tunggal. Dia hanya berkembang biak, berkembang biak secepat dan sebanyak mungkin sampai sumber daya yang dibutuhkan dari induk semang habis tuntas. Mensintesis DNA target agar memberi pintu baginya untuk masuk dan mengambil alih mesin replikasi sel hidup. Sama sekali tidak punya metode adaptasi dan berburu untuk makan dan atau menjadi dominan.

Tidak ada mahluk hidup yang tidak bisa punah oleh keserakahan manusia. Virus mampu melakukannya tanpa perencanaan dan metode. Bahkan virus dapat menghabiskan manusia. Bahkan bukan dirinya sendiri yang mendorongnya bermutasi. Justru pure oleh alam akibat ekosistem yang berubah dan terganggu atau kimia obat2an yang digunakan manusia. Dia bermutasi kalo induk semang meminta atau mendorongnya. Intinya dia memiliki daya perusak yang lebih besar dari manusia. Dan manusia tidak pernah menemukan metode yang tepat membasminya. Manusia hanya dapat menekan penyebarannya. Tidak memunahkannya. Virus tidak memiliki alasan apapun untuk menghancurkan. Dia juga tidak tahu kalo dia menghancurkan. Membunuh tanpa tujuan. Dia tidak perlu makan. Dia mungkin justru punya tujuan baik untuk melestarikan speciesnya sendiri. Fungsi RNA-DNA-nya hanya replikasi, selesai.

Mungkinkah dia mahluk terakhir yang diciptakan Tuhan? Untuk membuat manusia tidak terlalu sombong? Bukankah tidak ada kitab suci yang menyanggah kemungkinan ini?