Tuesday, December 30, 2008

Tambah Greedy Karena Frustasi?

Krisis Global mungkin belum akan segera reda, menyusul turunnya harga minyak dan bailout pemerintah negara2 maju pada swata.

Mereka yang kehilangan banyak tidak malah bertobat dari ketamakannya, namun justru mencari cara untuk mengembalikan kerugian yang dialaminya dengan segala cara dan secepat-cepatnya.

Mereka yang menikmati naiknya harga minyak, benar-benar kecewa dengan penurunan harga minyak yang tiba2, membuyarkan proyek-proyek prestisius di negaranya masing-masing, dan membatasi gaya hidup mewah dan sombong mereka.

Uang rakyat dipakai untuk menutup kerugian pengusaha raksasa. Rakyat sendiri dipaksa menelan harga barang yang mahal akibat harga minyak yang akan naik sebentar lagi, menyusul konflik di Timur Tengah.

Pemerintah negara-negara berkembang akan benar-benar kehabisan uang. Mereka bukan negara surplus minyak, bahkan hanya konsumen. Namun kerugian perusahaan swasta di negaranya membawa dampak buruk pada kestabilan politik dan keamanan akibat meningkatnya pengangguran dan makin tak terjangkaunya harga barang-barang, ujung-ujungnya produk manufaktur dan dagang tak terserap pasar dan tak laku dilempar keluar.

Penerima Bailout justru tidak sungguh-sunguh jatuh miskin, karena hanya kehilangan beberapa portofolionya, sementara mereka masih dapat makan enak dan tidur nyenyak.

Seharusnya ada revolusi bersama antara pemerintah negara2 di dunia ini untuk membentuk aturan bersama mencegah pasar jatuh kembali dalam sikap greedy yang keterlaluan.  Tapi nyatanya itu tidak dilakukan.

Batas kedalaman dan keamanan perdagangan derivative sama sekali tidak tersentuh pembahasan para pemimpin tersebut.  Transaksi yang merupakan refleksi ketamakan itu tidak diantisipasi.  Ini hanya gejolak kecil, tidak terlalu berpengaruh pada sektor riil.  Pembicaraan hanya seputar bagaimana kerugian tidak makin besar.  Tanpa pertobatan atas penyebab riil kerugian tersebut.

Mereka bertemu untuk membicarakan bagaimana mereka bekerja sama untuk menyelamatkan negaranya masing-masing.  Bagaimana agar upaya masing-masing negara tidak mendapat batu sandungan dari negara lain dalam bidang perdaganngan antar negara.

Mereka bertemu untuk membahas arah lari masing-masing negara agar tidak saling tubrukan ketika bola salju krisis menggelinding dengan gemuruh ke arah mereka.

Mereka tidak bertemu untuk menghancurkan atau menghentikan atau setidaknya membelokkan bola salju krisis ini.  Mereka tidak berupaya menghentikan bola salju itu bersama-sama.  Mereka sedang lotre memilih lokasi, dimana mereka sebaiknya berada dibawah bola salju itu, agar tidak saling gencet satu sama lain dan berusaha memilih tempat se-minggir mungkin pada jalur bola salju itu.

Iya, kalo bola salju krisi ini mengelinding terus setelah menghantam kita. Hla, kalo berhenti dan hancur saat bola ini ada di atas kita, bagaimana? Siapa bisa jamin dia akan terus mnggelinding dan kita hanya perlu menahan nafas sebentar saja, sampai krisis itu lewat?

Monday, November 17, 2008

Premanisme Orang Berseragam

Anton Medan bertanya, mana lebih banyak, orang salah di dalam penjara atau orang salah yang ada di luar penjara?  Sindiran atas instruksi Kapolri untuk memberantas para preman.

Jika saya ada di acara reality show tersebut, saya pasti akan balik bertanya, menurut Anda, lebih banyak mana orang baik di luar penjara daripada orang jahat di luar penjara?

Musuh kita bukan mereka yang dipenjara, tapi orang jahat di luar penjara.  Karena lebih banyak orang yang lebih senang jika tidak ada perilaku preman di lingkungannya. 

Mereka menjadi preman karena mereka merasa masih banyak orang-orang baik dan itulah sumber penghasilannya.  Kalo lebih banyak orang jahat daripada orang baiknya diluar penjara, siapa bisa dipremani?  Jadi, lingkungan penjara yang sebagian besar orang jahat, akan sertamerta menghentikan perilaku premanismenya, bahkan dia bisa justru menjadi korban preman penjara.

Sudut pandang berbeda adalah, bahwa razia ini akan mengembalikan daerah kekuasaan palak pada preman berseragam dari cengkeraman preman bertato yang pada tiarap takut dirazia petugas.

Inilah masa panen mereka setelah sekian lama direbut atau terpaksa bagi hasil dengan preman bertato.

Jukir resmi yang menjual karcis parkir berulang-ulang, satpam perumahan dan perkantoran yang menarik parkir dan uang keamanan ilegal, bertambahnya ongkos pemantauan perumahan atau pertokoan ke kas polsek setempat.  Termasuk duit lebih bagi petugas di jalan yang rawan macet oleh sopir yang ngetem, atau ongkos mel-melan yang naik di jembatan timbang antar kota atau terminal, karena tidak ada preman yang setor lagi pada mereka untuk sementara waktu. Atau justru karena tidak perlu bagi hasil lagi dengan mereka untuk sementara waktu.

Jukir resmi pemkot/swasta, petugas Dishub, petugas Polantas, petugas PD pasar, Satpam ruko/perum, Hansip kampung, Supir dan kondektur angkutan umum, petugas tiket tempat umum pemerintah/swasta. Saat ini mereka sedang memasuki masa panen.

Rakyat jelata, penjual di pasar, pengguna angkutan umum, penhuni Ruko dan Perumahan serta kampung, pengguna lahan parkir, pengantri tiket, pengguna fasilitas publik. Menjadi lebih merasa aman karena kemungkinan ditusuk dan dibogem lebih kecil oleh preman bertato, namun bisa jadi ongkos keamanan justru naik significant, karena mereka yang berseragam tersebut menjadi punya hak monopoli tarif tidak resmi, tidak ada kompetitor yang juga ditakuti jika duel person to person tanpa seragam.

Filosofinya, masih lebih banyak orang baik daripada orang jahat di luar penjara. Jadi, premanisme musti diberantas tuntas, mulai dari yang bertato hingga yang berseragam, bahkan hingga yang berdasi dan bersafari.  Wong sudah kerja, gaji sudah naik, dapat pensiun serta kemudahan kredit lagi.  Masak masih malak orang lain? Begitu tidak bersyukurnya orang-orang seperti itu.

Kenapa Bukan Ortunya?

Perkawinan perempuan di bawah umur. Kalo semua lakon di peristiwa ini dijajar untuk diadili di akhirat, saya yakin hukuman terberat akan jatuh bukan pada yang melamar, apalagi pada yang dilamar.

Hukuman paling berat seharusnya dijatuhkan justru pada orang tua yang diberi tanggung jawab oleh Sang Semesta untuk memelihara dan mengawal putrinya hingga masa yang pantas untuk kawin (bukan dikawinkan) dicapai.

Alasan ekonomi tidak masuk dalam buku kehidupan semesta, sehingga dapat dibenarkan seseorang mengorbankan anaknya atau membiarkan anaknya menjadi korban phedophilia orang dewasa. Seberapun resmi atau sesuainya dengan aturan yang diyakininya sesuai dengan agama yang dianutnya.

Egoisme ortu yang dibungkus iming-iming seakan-akan demi kebaikan anaknya sendiri, adalah sangat laknat di mata semesta. Orang yang semestinya berani berkorban memberikan daging tubuhnya sendiri demi hidup anak-anaknya, justru berani mengorbankan daging anaknya demi perutnya sendiri.

Tidak salah jika saking muaknya Beliau Yang Esa, maka dijatuhkannya nasib buruk dan bencana bagi negeri ini, sebab bagian terkecil dari bangsa ini, bagian yang paling dekat dengan Sang Semesta, justru menjadi bagian yang paling menyedihkan hatinya.

Jika saya seorang anggota Dewan yang berpengaruh, saya akan berjuang mengajukan revisi UU Anak, agar memasukkan hukuman terberat pada Ortu yang lalai, membiarkan, mendorong, bahkan menjual anak2nya yang masih dibawah umur, menjadi istri orang baik resmi ataupun siri.  Hukumannya harus sama dengan teroris atau pelaku subversi.

Daripada semua warga bangsa ini, yang tinggal di NKRI ini, tidak ikut dihukum Sang Semesta termasuk pemerintahnya.

Friday, November 7, 2008

Money Laundry Lumpur Lapindo

Seandainya 2 Ilmuwan wakil Indonesia di adalah juga korban lumpur lapindo dan bukan pekerja di Lapindo Brantas, barangkali mereka tidak ngeyel dengan pendapatnya bahwa pemicu bencana tersebut adalah gempa Jogja. Sampai-sampai pemimpin forum memutuskan untuk voting.

Penjara sudah menanti, jika pengusutan oleh kepolisian diteruskan. Ilmu yang tinggi membawa tanggungjawab yang tinggi pula. Sudah tahu ada 14 Mud vulcano di Jatim dan 1 di Sidorajo, hla kok nekat ngebor tanpa persiapan yang adekuat bahkan extra hati-hati di sana? Siapa yang memberi saran metode pengeborannya? Persiapan atas kemungkinan terjadi hal yang paling buruk juga ndak ada atau ditiadakan.

Siap-siap jadi wakil Lapindo Brantas di penjara.

Dan entah resmi atau tidak, pemerintah kita justru menyimpulkan bahwa triggernya adalah patahan watukosek yang diakibatkan gempa Jogja.

Negara tidak memihak rakyat. Negara lebih memihak Lapindo. Untungnya, Presiden kita ini cukup bijaksana, mau mendesak DPR untuk mengeluarkan dana talangan lebih dulu bagi korban, yang nantinya harus diganti Bakrie Corporation.

Entahlah, setelah kejatuhan saham group Bakrie, bagaimana nasib dana rakyat itu.  Jangan-jangan balik dalam bentuk penyertaan saham yang kemudian perusahaannya dijual murah ke pasar, yang ujungnya ternyata ke group Bakrie sendiri.

Money Laundry tingkat tinggi.

Thursday, November 6, 2008

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan III

Masih lanjutan dari teori II.

Lampu kuning adalah lampu peringatan untuk menambah kecepatan sesegera mungkin sebelum lampu berubah menjadi merah.

Lampu kuning adalah lampu peringatan untuk maju sebelum lampu hijau menyala.

Lampu kuning bukan lagi lampu peringatan untuk mengurangi kecepatan sebelum lampu merah menyala. Dan bukan lagi lampu peringatan untuk waspada sebelum lampu hijau menyala tanda kendaraan boleh mulai maju.

Tidak berpikir bahwa mungkin pengendara lain dari arah lain juga berpikiran sama, jadinya tubrukan di tengah2. Jika lampu kuning tidak berfungsi, maka lampu merah terpaksa di langgar juga, karena tidak mungkin berhenti mendadak, dan menyalahkan rusaknya lampu jika kena tilang. 

Berita tertangkapnya pelaku korupsi bukan peringatan untuk tiarap dan menghentikan perilaku buruk pungli dan korupsi. Namun justru sinyal untuk sesegera mungkin mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum pemeriksaan diberlakukan.

Sementara aturan-aturan baru yang cenderung menambah lubang2 kesempatan korupsi dan atau melanggar hak asasi belum juga disahkan dan diterbitkan aturan pelaksanaannya, buru-buru diperdakan atau diterapkan dalam tata kelola pemerintahan di daerah bahkan di pusat. Walaupun tinjauan hukum sedang diajukan. Atau masih ada polemik tajam di masyarakat.

Rakyat nampaknya tidak terlalu keberatan dengan penerapan teori manajemen pemerintahan seperti ini? Bukankah orang kebanyakan, yang bukan bagian dari penyelenggara negara, juga berperilaku yang sama seperti itu di jalan raya?

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan II

Melanjutkan teori pertama.

Jika dia berada di barisan terdepan pada sebuah perempatan dengan traffic light, maka dia akan bergerak maju setelah mendengar klakson dari pengendara di belakangnya.

Ini agak kelihatan salahnya.

Indikator majunya dia adalah semata-mata bunyi klakson dari kendaraan di belakangnya. Biasanya dia pada posisi paling bersemangat nampaknya, karena selalu berada melewati garis marka jalan atau zebra cross, yang otomatis melewati garis pandangnya pada traffic light di samping atau atasnya.

Ada bunyi klakson berarti saatnya maju, walaupun lampu belum hijau. Tidak ada indikator pembanding lain sebelum mengambil keputusan untuk maju.  Selalu berasumsi kendaraan dari arah lain akan serta merta berhenti atau mengurangi kecepatan walaupun dari kejauhan nampak kendaraan dari arah lain tersebut tidak mengurangi kecepatan.

Bunyi klakson selalu dianggap sinyal untuk maju menyeberangi perempatan. Jarang terpikir bahwa klakson dari pengendara di belakangnya tersebut berbunyi karena tidak sengaja tersenggol, atau hanya peringatan agar dia agak maju atau minggir. Atau bahkan hanya pemberitahuan bahwa ada sesuatu dari kendaraannya yang membahayakan dirinya (misal, standard samping yang lupa ditekuk, kedip lampu arah sign belok yang tidak sesuai dengan arah belok kendaraannya). Bahkan lebih konyol lagi, klakson tersebut hanya klakson untuk menyapa dari kendaraan temannya di barisan belakang.

Tidak akan maju kalo tidak dengar bunyi klakson dari kendaraan di belakangnya, walaupun lampu sudah hijau.

Sama nggak dengan tata cara pelayanan public di negara ini?

Tidak berubah kalo tidak ada demo. Baru bikin pasar di suatu area kalo jalanan di area tersebut sudah macet dan penuh dengan pedagang sayur-mayur. Bergerak setelah ada persoalan, tidak ada tindakan untuk perencanaan dan prediksi apalagi solusi, jika tidak ada persoalan, walaupun dugaan akan timbul masalah sudah dirasakan atau bisa dirasakan dengan menerapkan metode2 ilmiah.

Sama nggak, dengan tata cara pengelolaan ?

Traffic Light dan Manajemen Pemerintahan I

Ini mengenai perilaku seorang pengendara di traffic light di negaraku, Indonesia. Ini analogi yang saya anggap pas dengan perilaku penyelenggara negara di negaraku tercinta ini. Sebuah teori yang diolah dan dibuat dari experience, bukan experiment.

Jika dia (pengendara tersebut) berada di barisan belakang dari pengendara lain, dia akan menunggu pengendara di depannya maju sebelum dia sendiri maju.

Apa yang salah?

Tidak ada yang salah, jika dia memperhatikan rambu lalu lintas yang belum menyala hijau, sementara pengendara di depannya yang diketahuinya berada melewati garis pandang pengendara tersebut ke traffic light (otomatis kelihatan karena melewati garis marka atau zebra cross), sudah maju walaupun lampu belum menyala hijau.

Indikator maju atau tidak, semata-mata adalah pergerakan pengendara di depannya, bukan traffic light. Keputusan pembanding hanyalah kondisi perempatan yang sepi atau tidak, ada atau tidak ada kendaraan lain melaju dari arah lain. Jika sepi, ikut maju. Bahkan sekalipun tidak cukup sepi (satu-dua lewat), tetap ikut maju, karena pengendara di depannya sudah maju jalan.

Sama nggak dengan perilaku para penyelenggara negara ini dalam mengelola pemerintahan dan melakukan fungsi regulasi?

Wednesday, November 5, 2008

Black Man in White House

Ternyata demokrasi itu benar nyata.

Bahkan di sebuah negara sebesar Amerika yang dianggap jadi embahnya demokrasi, banyak orang termasuk saya memandang demokrasi hanya sebuah retorika ideal tanpa implementasi senyatanya.

Bahkan demokrasi dianggap sebagai alat pembenaran terhadap kepentingan dan egoisme Amerika di kancah Internasional.

Hari ini, kita melihat Amerika ternyata bukanlah sebuah entitas tunggal besar yang dapat diwakili oleh kebijakan pemerintahnya atau presidennya semata.

Amerika terdiri dari sebagian besar people yang ternyata sangat-sangat mengerti apa itu demokrasi yang sesungguhnya, dan sungguh-sungguh berjuang untuk menjadi lebih demokratis dengan damai.

Ternyata demokrasi dapat diraih tanpa tekanan dan kekerasan. Tanpa perang dan intimidasi.

Ternyata hegemoni kekuasaan mayoritas terhadap minoritas dapat ditaklukkan dengan cara yang demokratis tanpa mengorbankan kualitas dan menyimpan dendam.

Ternyata demokrasi mampu pula memberikan peningkatan kualitas kebijakan, person pemimpin dan tingkat kesejahteraan umum sesungguhnya bagi bangsa sebesar Amerika secara nyata.

Ternyata demokrasi bisa menjadi jalan paling ideal saat ini untuk melakukan perubahan menuju ke arah lebih baik dengan implikasi rasa sakit dan pengorbanan paling sedikit.

Ternyata demokrasi bisa menjadi alat yang lebih efektif dan paling efisien untuk maju dibanding upaya teror dan perang, dalam memperjuangkan suatu kepentingan mulia bagi sebagian besar penganutnya.

Ternyata perbedaan SARA bukanlah hambatan untuk bersama-sama bergerak maju menjadi lebih baik dan beradab.

Amerika bukan presidennya. Amerika bukan pemerintahnya. Amerika adalah rakyatnya. Rakyat Amerika yang berdaulat menentukan arah kebijakan bangsa bagi hidup lebih baik, sebagai rakyat sekaligus pemilik sesungguhanya negara Ameriak khususnya, juga sebagai bagian dari rakyat dunia umumnya.

Betul bahwa kemenangan Obama sesungguhnya adalah hanya simbol dari kemenangan rakyat Amerika.

Sebagian besar warganegara Amerika ternyata telah menang terhadap issue SARA dan berhasil menempatkan setiap orang yang tidak sama dengan dirinya adalah juga sama derajat dan kesempatannya seperti halnya dirinya sendiri.

Era diplomasi dan demokrasi. Era kebangkitan  rakyat berpenghasilan menengah ke bawah. Era young people yang penuh ceria dan warna. Era hidup berdampingan tanpa kekerasan. Era manusia tanpa sekat SARA. Era kaum moderat.  Era tanpa kekerasan dan perang.  Era kebebasan dan penghargaan atas keberagaman.  Yang sesungguhnya. Sedang dimulai dan disulut oleh negara adidaya demokrasi.  United State of America.

Kapan menular ke Indonesia?

Monday, November 3, 2008

Earth Speaks

Sudah lama dia ingin bicara, namun manusia terlalu sibuk dengan kepentingannya sendiri.  Sudah lama dia ingin manusia mengerti, namun manusia lebih suka mengerti dirinya sendiri.  Sudah lama manusia menyakiti Bumi, namun manusia mengabaikan hal itu begitu saja. Lihatlah, jika Tuhan memihak Bumi dan membiarkan Bumi menggeliat dan berbicara lantang.

Manusia hanya debu dan tidak ada sangkut-ITpautnya dengan usaha Alam untuk survive dan menyeimbangkan diri.  Bukan Alam yang harus mengikuti maunya manusia yang cuma bisa mengeksploitasi dirinya. Justru manusialah yang seharusnya menyelaraskan diri dengan Bumi. Manusia harus mengerti posisinya. Ketidakpeduliannya hanya akan membuat Bumi makin dirugikan dan menjadi sakit hati.

Al Gore telah mencoba menjadi Jurubicara Bumi.

Jika Anda kesasar di Blog ini dan tertarik mendapat hardcopy DVD rip An Inconvenient Truth (jika Anda kesulitan mencari Link Download di Internet dan store yang menjual DVD documenter ini), Anda dapat memperolehnya dengan menyampaikan comment perminataan.  Biaya dikenakan hanya sebagai pengganti ongkos beli keping DVD+ongkos copy+ongkos kirim ke tempat Anda. Karena hanya DVD rip, maka DVD tidak bercover dan bergambar, bahkan tidak bersubtitle Indonesia. Anda dapat melengkapinya sendiri jika mau. DVD documenter ini layak jadi koleksi keluarga.

Penyebarluasan DVD Documenter ini bukan untuk tujuan komersial.  Semata-mata ditujukan untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya hidup mesra kembali dengan Alam.

Friday, October 31, 2008

Smart Politic Tactic

Contoh kasus sebelumnya: Sementara FPI ditahan karena kekerasan pada AKKBB, MUI menfatwakan sesat pada Ahmadiyah dan merelease kesepakatan 4 menteri terkait Ahmadiyah. Kedua oraganisasi tidak dibekukan atau dibubarkan.  Suhu pertentangan pendapat public mereda.

Baru: UU Pornografi. Sementara bibit baik perlawanan terhadap kanker korupsi ditanamkan, dengan dijadikannya besan Presiden sebagai tersangka KPK, RUU Pornografi disahkan di DPR, bibit buruk konflik horisontal ditanamkan. Sementara kata2 SBY masih diingat oleh publik: "Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan."

Tulisan ini mengenai Kasus Baru itu.
Belum akan terjadi (konflik horisontal) setidaknya sampai Pemilu presiden 2009 dan mungkin juga tidak akan blow up dan meluas jika SBY terpilih kembali.  Sementara para Kontra UU tersebut dapat melakukan Judicial Review ke MK yang kemungkinan besar diluluskan untuk merubah kembali atau meniadakan pasal2 yang jadi keberatan mereka, Ketua MK adalah mantan anak emas Gus Dur, malaikat penjaga pluralisme Indonesia, penanam bibit baik pluralisme dalam masa pemerintahannya yang singkat.

Atas kepentingan Partai berkait Pilkada2 yang belum usai, maka PD terpaksa menempatkan diri pada sisi mayoritas di DPR.

Analisa saya, PD pro pluralisme, Presiden pro Pluralisme, namun sebagai negarawan, beliau harus mampu berdiri di tengah, maka segala sesuatu harus dipikir secara luas dan menyeluruh.

Nurani Presiden akan nampak pada hasil pengajuan judicial review UU Pornografi oleh public yang kontra.  Hal itu sudah dikondisikan sejak pemilihan Mahfud MD sebagai Ketua Majelis Mahkamah Konstitusi.  Analisa saya, UU tidak akan dibatalkan, namun akan direvisi substansinya. Yang paling mungkin adalah membatalkan pasal2 atau kata2 tertentu di dalamnya.

Aksi walkout setelah hadir hanyalah basa-basi politik PDIP dan PDS untuk menunjukkan komitmen mereka pada konstituen. Kalo ndak setuju sama sekali seharusnya mereka tidak hadir dalam rapat paripurna, sehingga rapat menjadi tidak kuorum dan pengesahan UU ditunda.  Sudah ada deal, bahwa mereka akan berhasil di MK.

Itulah politik. Hebat nian Presiden kita ini.  Kepandaian seperti ini tidak mungkin didapat dari presiden yang hanya lulusan SMA atau bahkan yang tidak lulus SMA.

Tinggal menunggu, apakah Perda-Perda bergerak lebih cepat daripada MK. Konflik horisontal yang diramalkan tidak akan terjadi atau belum akan terjadi, bisa jadi justru beraksekerasi lebih cepat dari dugaan.  Dan aksi represif aparat akan menimbulkan bibit sentimen separatisme di beberapa wilayah.  Negara akan terlalu sibuk menjaga keutuhan NKRI daripada menjaga NKRI dari pelecehan bangsa lain yang juga semakin berani.

Tuesday, October 28, 2008

Mc.Cain Menang?

Dugaan saya yang tidak berdasar hitung2an ilmiah.

Masa W.Bush bagi saya nampak sebagai pemerintahan di persimpangan jalan. Pemerintahan abu-abu, yang di satu sisi nampak agresif namun di sisi lain sangat diplomatis.

Kondisi terkini perekonomian AS merupakan ujian yang tidak disangka-sangka walaupun sudah diramalkan.  Inilah saat dimana para pelaku pasar di sana memutuskan, untuk sadar atas ketamakan dan kerakusannya, atau justru merasa tidak bersalah dan mencari jalan agar tetap dapat mengambil untung sebesar-besarnya dalam kondisi jatuh miskin.

Jika keputusan kedua yang diambil, maka pasar membutuhkan pemimpin yang lebih agresif dari W.Bush. Tidak hanya menyangkut kebijakan dalam negeri namun justru lebih nampak di politik luar negeri. Kampanye Mc.Cain lebih banyak berisi serangan pada Obama. Kualitas serangan itu lebih baik dari kualitas penjelasannya tentang masa depan Amerika.

Kapitalisasi sektor riil AS yang jauh lebih besar dari pasar modal dan uangnya, memberi kekuatan pada Obama untuk mendapat dukungan kalangan menengah ke bawah yang merupakan bagian terbesar populasi penduduk AS dibanding para pemilik modal kaya.

Namun, kekuatan uang mungkin saja dapat membalikkan fakta kemenangan Obama di atas kertas. Karena sistem EV yang digunakan di pemilu AS. Atau (ini gila), Obama dipanggil Tuhan sebelum menjabat.

Ini bukan pertarungan antara yang jahat dan yang baik. Ini adalah waktu penaburan bibit yang baik atau yang buruk.  Jika bibit yang buruk yang ditanam, masih ada waktu untuk mencabutnya (pada pemili-pemilu berikutnya) sebelum menjadi pohoon yang sulit ditebang. Namun bibit bagi AS adalah pohon Eak bagi negara2 lain, termasuk Indonesia.  Tidak perlu menunggu menjadi pohon di negara asalnya, bibit yang berkecambah saja sudah mampu merontokkan ekonomi Indonesia dan negara-negara lain yang lebih kecil.

Issue rasisme dapat memberi efek yang tidak terduga.  Issue ini dapat saja dipicu oleh kerusuhan2 kecil sporadis bernuansa rasis di AS. Kerusuhan2 kecil yang dibiayai oleh pemilik modal kaya dapat membelokkan opini public terutama swing voter di saat-saat terakhir pemungutan suara.  Pemilik2 modal ini adalah mereka yang hampir gagal melanggengkan kerakusannya, dan kawatir dengan kebijakan ekonomi Obama yang tidak memihak mereka, bahkan cenderung menghukum dan membatasi mereka.

Maka jika skenario ini terjadi, maka bisa dipastikan bibit2 buruk berupa spora2 akan menyebar ke seantero dunia, dan menanamkan diri melalui Pemilu2 di berbagai negara setelah Pemilu AS.  Karena kemajuan tehnologi informasi dan broadcasting, maka pertumbuhan bibit2 itu akan lebih cepat menjadi pohon dan berakar kuat.

Tidak perlu waktu ratusan tahun untuk menuai kekacauan yang lebih besar, cukup beberapa tahun atau puluh tahun saja.  Karena pupuk tehnologinya sudah siap dan sangat advance. Pupuk yang hebat bagi bibit yang baik maupun yang buruk.

Efek domino hasil pemilihan presiden AS tidak akan diterima dengan segera, namun dapat dirasakan akselerasinya seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.

Pertanyaannya siapkah Indonesia?

Saturday, October 25, 2008

Wajah Indonesia 2009

Seperti meramal wajah bayi nanti kayak apa setelah dia lahir, dengan melihat wajah janinnya.

Adakah Partai yang Calon Legislatifnya tidak ada yang bermasalah? Bekas narapidana, sedang proses hukum, ijasah palsu, beristri lebih dari satu, dicalonkan partai lain, duda atau janda cerai, anggota keluarga terlibat kriminal atau narkoba, sedang menjabat sebagai PNS, rekam jejaknya ada pengalaman terlibat korupsi.

Adakah Partai yang selalu tepat waktu memenuhi syarat administrasi dan jadwal KPU?

Adakah Partai yang dapat memenuhi semua syarat administratif yang diminta KPU baik administratif Partai maupun Caleg-nya?

Adakah Partai yang secara terbuka mengumumkan Calegnya dan meminta publik melakukan verifikasi prestasi dan kekurangan calon-calonnya?

Kenapa hanya soal Partai dan Caleg?

Unsur genetik politik yang tidak bisa diubah-ubah dan bersifat permanen, itu alasannya.

Jika gen-nya sudah busuk, diperlukan perjuangan yang keras dan panjang, kalo tidak bisa dibilang sia-sia, bagi rakyat untuk membuat Indonesia bisa hidup normal dan ber-akselerasi mencapai kemajuan.

Rakyat dipersilahkan memilih buah-buah yang paling tidak busuk dari semua yang sudah busuk sejak dari pohonnya. Jika tidak sejak sekarang LSM-LSM dan publik menaruh perhatian yang ekstra untuk menyaring bibit-bibit buruk itu.

Kalo rakyat menolak membeli buah-buah busuk dan memilih kelaparan daripada keracunan, maka kesudahannya akan tiba.

Golput yang lebih besar dari jumlah pemilih akan menimbulkan bencana politik yang besar bagi pemenang pemilu baik legislatif maupun presiden.

Separatisme yang tidak terduga akan mencuat di daerah-daerah.  Dukungan internasional akan mudah didapat oleh mereka untuk meminta referendum.  Dunia internasional sedang mencari cara berkelit dari resesi global, dan konflik di suatu negara memberi peluang baru ketersediaan pasar yang loyal dan sumber daya alam yang lebih murah.

Jika tidak demikian, maka mungkin terpaksa ada pemilu baru atas desakan dunia internasional yang dibumbui kepentingan nasional mereka sendiri atas aset mereka di Indonesia dan sumber daya alam Indonesia sebagai kompensasi bantuan untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi dalam negeri yang kolaps karena hilangnya kepercayaan public akibat tingginya golput.

Tidak ada persiapan khusus atas kemungkinan skenario terburuk yang mungkin terjadi tahun depan.  Hal ini seperti daging mentah yang tak dilindungi bagi macan-macan kelaparan.

Setiap negara sedang kehausan.  Sedang kita sibuk menyiapkan hidangan tanpa pelindung. Bahkan kita menyiapkannya dengan sembarangan dan tangan kotor.

Kemuakan sedang meningkat temperaturnya.  Rakyat mulai mual melihat begitu berdedikasinya orang-orang berduit negeri ini berebut tulang kekuasaan dan ketenaran. Begitu bersemangatnya berbebut tulang, meninggalkan dan tidak peduli anak-anaknya yang menjerit-jerit meminta susu dan sekarat di tengah terik matahari.

Wajah yang mengawali kebangkitan baru Indonesia. Atau wajah yang mengawali kematian Indonesia yang kedua. Seperti jamuan makan malam terakhir bagi segerombolan narapidana sebelum dihukum mati. Atau jamuan makan pertama bagi keluarga mempelai sebelum resepsi besar bersama tamu-tamu kehormatan.

Pilihan itu kita tentukan sekarang.

Saatnya Menuju Pasar Bebas Terbatas?

Ramalan akan keruntuhan ekonomi pasar bebas, sudah disampaikan penerima nobel ekonomi tahun ini.

Penyebab utama bukanlah sistem itu sendiri, namun justru oleh ketamakan subyek sistem.

Jikapun ada pilihan sistem baru, maka tidak ada jaminan bahwa sistem baru itu akan tidak mengalami keruntuhan diujung evolusinya.

Seperti halnya kehidupan selalu menemukan jalannya, setiap persoalan selalu ada jawabannya. Maka ketamakan juga akan selalu menemukan caranya untuk menjadi makin tamak.

Perbaikan dengan Bailout? Barangkali bukan solusi tepat, karena dana itu dikumpulkan dari sektor riil juga. Efek domino yang lebih parah akan terjadi sangat menyakitkan bagi mereka di sektor riil yang tidak ikutan bermain derivative. Special jika keruntuhan ini terjadi pada raksasa utama rider neoliberalisme-kapitalisme.

Memang, sumber daya alam mungkin akan dapat menyelamatkan kebangkrutan ekonomi, namun tidak ada jaminan kejatuhan global yang terjadi sekarang ini tidak bakal terjadi lagi lebih cepat siklusnya daripada saat pertama neoliberalisme pasar modal dan uang dimulai. Equilibrium Pasar Bebas sebenarnya hanya angan-angan. Hanya acuan ideal tanpa pernah tercapai dengan kondisi steady. Justru Not Equilibrium-lah yang menggerakkan ekonomi pasar global. Seperti soal hitungan rumus relatifitas yang tidak pernah menggunakan variable kecepatan cahaya yang absolute, namun selalu bernilai mendekati.

Bagaimana dengan Pasar Bebas Terbatas?

Negara memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi regulasi terhadap pasar. Bukan dalam rangka menuruti kehendak pasar, namun membatasi gurita ketamakan subyek pasar yang terlalu bersemangat membuat turunan-turunan baru mekanisme dagang yang berpeluang menghancurkan lebih banyak pemain daripada pemain di sektor riil-nya sendiri yang jadi obyek dagang awal.

Alasan demografis dan kultur serta kurangnya pemerataan tehnologi global dapat menjadi acuan, mengapa globalisasi tarif perlu ditinjau ulang. Sebab pada dasarnya kebijakan tarif yang sama jadi obyek permainan para pemain pasar uang dan modal yang lebih suka kemudahan dalam bertransaksi dan memperoleh keuntungan dengan cepat tanpa hitungan yang ruwet.

Negara mengatur dengan seksama hubungan yang ideal antara sektor riil dan non-riil. Dimana negara mengusahakan keberlangsungan hidup dan perkembangan sektor riil yang sebisa mungkin makin steril dari aksi dagang di sektor non-riil.

Kenyataannya hubungan ideal seperti itu tidak mungkin/sangat sulit diwujudkan dalam kondisi perekonomian yang menganut rezim pasar bebas dan global.

Mungkinkah negara menciptakan pasar sendiri yang independent terhadap pasar global untuk menjamin keberlangsungan gerak ekonomi sektor riil? Pasar ini adalah pasar darurat yang dibuat kecil saat pasar non-riil membaik, namun dibuat besar saat kondisi pasar non-riil menunjukkan gejala-gejala bubble atau resesi global menunjukkan tanda-tandanya.

Fleksibilitas traktat perjanjian tarif dan dagang antar negara harus ditekankan dalam perundingan bersama. Sementara segala peraturan dan undang-undang bidang industri dan perdaggangan baik sektor riil maupun non riil dalam negeri dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi fleksibel untuk diubah dengan cepat menuju pasar bebas terbatas dalam rentang waktu dan kapitasisasi yang bersifat sementara hingga pasar non-riil yang kolaps dan resesi global berangsur-angsur teratasi.

Bank dan Lembaga Keuangan non-Bank dapat menjadi centrum pengaturan relasi sektor riil dan non riil, sehingga didapat kondisi dimana gejolak pasar non riil tidak menghantam sektor riil.

Kata kuncinya adalah fleksibilitas. Agar ketamakan dan kerakusan pemain dapat dibatasi. Yang dibatasi adalah sifatnya bukan orangnya, sebab mungkin saja mereka yang tidak tamak dan berada pada posisi regulator juga mungkin menjadi tamak karena tergoda ego-nya sendiri. Yang akhirnya justru membuat perkonomian mengarah pada konsep Pasar Tertutup.

Perekonomian berpaham sosialis-komunis yang liberal seperti China (saat ini mungkin bisa disebut NeoKomunis, komunisme-kapitalis), atau Ekonomi Kapitalis-Sosialis ala Rusia, atau Ekonomi Pasar Bebas Terbatas ala Indonesia.

Atau ada yang mau bilang NeoKeynesianisme?

Global Warming, bisa di-Stop?

Kenyataan yang menyakitkan. 

Sekalipun hari ini kita berhasil menghentikan emisi carbon industri ke tingkat nol persen dan menghentikan emisi CRC ke atmosfer Antartika, kita tidak dapat mencegah perubahan iklim global yang sedang terjadi. 

Jarang yang tahu bahwa emisi carbon dan metana terbesar justru dari hutan, bukan dari emisi industri dan kendaraan bermotor. 

Jarang yang tahu bahwa kenaikan suhu permukaan bumi lebih banyak disebabkan oleh siklus arus panas dan dingin antara arus air tawar dan asin di daerah subtropis. 

Jarang yang tahu bahwa global warming akan mendahului global freezing, bencana besar sesungguhnya.
Alam memiliki mekanismenya dan siklus iklim global sendiri. siklus tersebut akan berulang dalam jutaan tahun. Hal itu tak dapat dicegah dan diperlambat. Siklus itu diperlukan untuk me-renew atau mereset penyimpangan-penyimpangan iklim yang terjadi akibat interaksi alam dan mahluk hidup secara umum, tidak hanya manusia. Siklus tersebut justru diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup kehidupan di muka bumi. 

Yang diperlukan adalah persiapan cerdas untuk bertahan dari perubahan iklim yang mendadak dan global tersebut sampai keadaan steady iklim tercapai kembali.

Sebab jika kita tidak segera bersiap, maka nasib manusia akan seperti dinosaurus pada masa awal zaman es dan akir jaman es. Yaitu, kepunahan global.

Langkah-langkah lebih baik dalam produksi dan penggunaan bahan non-natural semata-mata adalah usaha untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara umum, langkah -langkah tersebut adalah perwujudan dari kesadaran manusia untuk menghargai alam dan kesadaran manusia atas kebutuhan interaksi yang lebih harmonis dengan lingkungan sekitarnya.

Langkah-langkah tersebut tidak dapat menghentikan perubahan iklim global yang sudah menjadi siklus jutaan tahun alam sendiri.

Yang dapat dilakukan adalah penggunaan tehnologi untuk melindungi kehidupan manusia dari bencana tak terhindarkan tersebut, atau menselaraskan diri dengan alam dan memanfaatkan kekuatan alam itu sendiri untuk berkelit atau bertahan dari bencana global.

Penelitian menunjukkan kemungkinan adanya berbagai peradaban maju jutaan/ratusan ribu tahun sebelum masa manusia modern terjadi. Mungkin itu benar. Namun hipotesis itu justru mengingatkan kita bahwa, jika peradaban maju sebelum manusia ternyata gagal mempertahankan kelangsungan hidupnya, betapapun majunya. Berarti tidak ada jaminan bahwa, peradaban kita saat ini bisa bertahan dari bencana global. 

So, what should we do??

Tuesday, October 14, 2008

Kiamat Pada 21 Desember 2012?

Yang diberi kuasa datang menghakimi di akhir jaman saja ndak dikasih tahu kapan doomsday tiba.
Tapi ada juga paranormal Indonesia yang meramalkan penduduk dunia bakal tersisa 30% dari jumlah total pada tahun itu.
Luarbiasa, padahal pencetus tanggal itu sudah menjelaskan dasar penghitungan ilmiahnya dan meralat rumors yang beredar di No Doomsday in 2012.
Ramalan selalu menarik minat orang. Suatu kesadaran yang tak disengaja, bahwa manusia bakal mati dan selalu ada pertanyaan akan sesuatu sampai dia pergi untuk selama-lamanya, ke tempat yang rasanya belum pernah didatanginya.
Mati rame-rame apa kerennya, apa faedahnya, wong semua pada mati. Tidak ada yang menceritakan apa yang terjadi, tidak ada yang mendengar apa yang sudah dan pernah terjadi. Tak ada yang mengingat, tak ada yang menertawakan kisah hidup.
Mati sendirian itu yang paling ngeri. Mati karena bangkrut sementara yang lain profit dan bisa menikmati spaghetti. Mati karena drugs, sementara yang lain cuma fly. Mati karena cerai dari keluarga, sementara yang lain bisa mudik dan berangkulan. Mati karena kehilangan pekerjaan, sementara yang lain punya alasan ada kerjaan ketika diminta bantu keluarga atau temennya.
Lebih celaka lagi, adalah mati jiwanya, mati rasanya, mati cintanya, mati semangatnya, mati visinya. Sementara tubuhnya masih hidup dan perlu makan dan minum termasuk berlibur, plus masih harus bertanggungjawab atas keluarga atau kemalangan hidup.
Kiamat itu kebutuhan manusia. Jawaban dari pemberesan segala hal yang tidak mampu dibereskan manusia. Dan, Factory Reset bagi Creator Alam.

Sunday, October 5, 2008

Saya Ingin Memiliki

Website yang memberi informasi selengkap mungkin tentang buah apa saja yang asli Indonesia, asal daerahnya, bagaimana merawatnya, membudidayakannya, memperolehnya untuk dipelihara, sekaligus informasi pengembangan varietas baru, sehingga menjadi inspirasi bagi peminat untuk menjadikan buah asli Indonesia go internasional penjualannya.  Jika nanti saya cukup kaya, saya ingin punya kebun luas yang akan ditanami tanaman buah asli seluruh Indonesia.
Website yang memberi informasi selengkap mungkin tentang para penemu atau inventor di berbagai bidang yang hasil invensinya orisinil temuan atau buatan warganegara Indonesia. Siapa orangnya, dimana bisa menemuinya, ringkasan penemuannya, riwayat pengembangannya, termasuk nomor hak ciptanya, sehingga dapat memberi inspirasi pada pemerintah dan pengusaha yang tertarik untuk menjadikan invensi tersebut sebagai produk yang yang siap implement dan jual bahkan ke dunia Internasional.

Kapitalisme Ganti Lead Rider ?

Mungkin terlalu jauh untuk meramalkan keruntuhan kapitalisme.  Kemungkinan terjauh yang bisa dinalar adalah pergeseran pemeran utama. Itupun jika pemerintah US gagal merestrukturisasi dampak resesi perekonomian yang sedang dialaminya.  Kapitalisme itu kejam, pun itu terhadap pemiliknya sendiri, jika perlu, demi kelangsungan hidup sistem itu sendiri.

Jika Pemerintah US ternyata mampu mengendalikan resesinya, efek domino resesi itu masih akan bisa terlalu berat diterima oleh negara-negara lain yang lebih lemah perekonomiannya pada masa ini.  Kondisi global saat ini tidak lebih baik dari kondisi saat resesi global sebelumnya.

Kekuatan-kekuatan ekonomi baru bermunculan dan berhasil men-driving kapitalisme dengan begitu baik dan lihai.  Eropa Barat, Eropa Timur dan Timur Tengah, serta China, mulai berhasil menampakkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi baru yang mengendarai kapitalisme juga.

Pasar yang berkembang demikian pesatnya karena pertumbuhan infrastruktur yang makin memadai dan dijadikan fokus pembangunan di negara-negara yang kurang maju pada masa ini oleh pemimpin-pemimpin negeri yang makin bijak, tidak mengijinkan kapitalisme ambruk.  Bahkan Kuba dan Amerika Latin pun sudah tidak lagi alergi Kapitalisme, belum lagi Korut.  Mereka menemukan rahasia yang sama yang ditemukan oleh para pendahulunya (Rusia dan China) untuk men-driving kapitalisme alih-alih melawan kekuatannya yang sudah menglobal.

Dollar akan segera digantikan Euro atau Yuan ? Tidak sejauh itu nampaknya, sebab akan menimbulkan goncangan kebangkrutan ekonomi yang besar di seluruh dunia, termasuk pada negara-negara kapitaslis baru.  Namun, mungkin terjadi Dollar tidak dapat menopang nilainya sendiri lagi.  Dollar hanya nilai simbolis atas gabungan kekuatan matauang-matauang kuat dunia saat ini. Seperti keputusan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang ditentukan oleh kelima anggota tetapnya. Demikian nilai US Dollar akan ditentukan oleh tarik-ulur kepentingan negara negara kuat baru.  Mungkin kekuatan-kekuatan ekonomi baru tersebut akan berhasil memaksa US melepas Dollarnya demi menjaga agar perekonomian dunia tidak bangkrut. Dan tentu US akan memiliki mata uang baru yang tidak lagi rentan mempengaruhi ekonomi global karena berlaku mandatori terhadap US Dollar yang telah diserahkan pada kekuatan kapitalis-kapitalis baru.

Kebangkrutan Amerika, ya, kehancuran kapitalisme, tidak.

Jika Amerika tidak mau dipaksa dan terpaksa menerima tekanan macan-macan baru, maka satu-satunya jalan bagi US untuk mempertahankan hegemoni perekonomiannya adalah melakukan penguasaan baru sumber daya alam sebanyak mungkin.

Iran dan Korut mungkin bakal menjadi next troops expansion.  Issue ancaman terorisme dapat menjadi alasan invasi. Konflik di Afrika harus dimanagemeni dengan baik untuk mendapat keuntungan dari sumber alam yang ada di daerah konflik.  Rusia lebih peka terhadap kondisi ini, maka setelah melakukan perhitungan matang, dia berani melawan US di Georgia.  Alasan keamanan nasional adalah alasan yang dibuat untuk dunia.  Masing-masing pihak tahu bahwa sumber daya alamlah alasan sesungguhnya.  Irak dan Iran lebih penting daripada Afganistan yang kering sumber daya alam.

China dan Rusia harus mengejar kemampuan dalam pencitraan satelit untuk mengetahui deposit-deposit baru sumber daya alam di dunia, sehingga bisa menyusun langkah-langkah diplomatik jangka pendek dan panjang yang damai untuk mendekati dan mendapat keuntungan harga pada titik-titik deposit yang menjadi teritori negara lain.  Hal yang sudah lama dilakukan oleh US.  Bahkan Jepang mulai merobust penelitiannya di bidang antariksa.  Sebab jika bukan untuk mencari minyak, kemampuan itu diperlukan untuk mencari bahan bagi keperluan membangun industri hybrid dan non hydrocarbon.

Dunia akan dan sudah mulai menjadi kue bersama bagi lima pemegang hak veto di UN.  Eropa dan India, termasuk negara-negara kaya di Timur Tengah dan Asia yang tidak masuk anggota tetap akan mati-matian menduga-duga dan mencari tahu alasan sesungguhnya  dibalik keputusan DK UN dan mengapa sebuah daerah menjadi konflik dan harus dibawa ke DK.  Mereka harus mengejar kemampuan tehnologi yang sebanding untuk membendung kepentingan tersembunyi negara pemegang hak veto.

Setidaknya mereka harus memiliki kemampuan ekplorasi dan eksploitasi yang mandiri, sehingga menjadi tidak rugi luar biasa jika deposit yang ditemukan di wilayahnya diekploitasi.

Hal tersebut sebenarnya bukan cerita baru.  Namun perkembangan ekonomi global saat ini membuat upaya-upaya penguasaan sumber daya lama itu makin nampak menonjol dan terang-terangan, kurang mengindahkan sopan santun diplomatik dan regional. Disamping kepandaian rata-rata para pemimpin negara yang nampaknya makin meningkat dan bersikap makin kritis.

Pertanyaannya, bukan bagaimana Indonesia bersikap terhadap kondisi seperti ini.  Namun mungkin lebih tepat, di mana Indonesia akan memposisikan diri.  Sebab hanya itu yang bisa ditanyakan jika Indonesia tidak juga melakukan tindakan apapun yang signifikan untuk mandiri dari pengaruh buruk kapitalisme.  Mandiri menjadi sesuatu yang berbeda secara konsisten atau menjadi rider-nya kapitalisme seperti macan-macan baru.  Tidak lagi menjadi ekornya kapitalisme.

Mengapa Selalu Ada Misteri Alam

Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"?  Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.  Kenang-kenangan dari masa laampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan  pada mereka yang hidup sesudahnya.

Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tidak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.  Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Ini adalah perkataan seorang Raja yang hikmatnya melebihi gabungan para penerima penghargaan Nobel hingga hari ini dan kesuksesannya melebihi gabungan 100 orang terkaya di dunia versi Forbes.

Monday, September 15, 2008

Will Be Fixed

Indonesia sedang menuju formasi tetapnya sebagai bangsa dan negara. Pemilu 2009 akan menjadi medan pertempuran kekuatan-kekuatan yang akan berusaha mendominasi wajah sesungguhnya bangsa ini di mata dunia dan Pemilik Semesta.
Moment itu sekaligus sebuah pesta raya rakyat pada umumnya. Besarnya uang yang mengucur demi keinginan mendominasi dan memenangkan pertarungan politik, begitu besarnya.  Rakyat pemilih memiliki hak raja untuk menjual hak suaranya kepada partai yang paling besar memberi harga. Dengan kondisi yang makin pragmatis, harga itu telah bergeser dari berarti nilai dan visi kebangsaan ke  arah materi an sik.
Ini adalah juga pesta bagi visioner-visioner yang terwakili oleh partai-partai. Mereka memiliki kesempatan luar biasa untuk mengutarakan ide dan visi mereka pada rakyat pada umumnya. Mereka lebih sedikit terkungkung oleh kondisi politik sebelumnya. Mereka memiliki kesempatan untuk bisa bersuara lebih keras dan mendapat dukungan massa yang riil demi mencapai visi dan mewujudkan idenya. Dalam kondisi pragmatis saat ini, maka mereka pun berpikir bahwa uang adalah alat yang sangat efektif memenangkan pilihan daripada baik dan buruknya visi dan ide mereka. Dan mereka punya tool itu.
Bagi yang setia dengan sikap oportunistik, yang berada di antara partai dan rakyat, moment ini adalah seperti panen raya dalam hidupnya. Kepandaiannya dalam meyakinkan partai/visioner atas metodenya untuk mendulang suara mendapatkan informasi yang mendukung upaya pemenangan dominasi, membuat mereka menjadi orang kaya baru. Kepandaian mereka untuk menempatkan diri ke lebih dari satu dua partai, membuat posisi mereka aman dan berlimpah uang. Mereka ini tidak termasuk para regulator pemilu.
Para regulator pemilu mendapat keuntungannya justru sebelum moment ini berlangsung. Proses untuk memastikan pemilu berjalan sesuai regulasi-lah, yang membuat tabungan dan kekayaan mereka membangkak luar biasa. Belum jika mereka bermain di bawah tangan dengan partai-partai saat moment berlangsung.
Kita akan melihat demonstrasi besar-besaran, bahkan sudah dimulai saat ini, hegemoni dan kekuatan materi para pemain politik dalam upayanya merebut perhatian rakyat. Indonesia ini gudangnya orang kaya. Dengan membesarnya jumlah pemilih golput, kebosanan rakyat untuk datang ke TPS, dan luar biasa banyaknya kompetitor yang ikut pemilihan umum, plus kondisi makro dan mikro ekonomi yang agak tidak stabil, tidak menyurutkan langkah mereka untuk maju terus.
Makin sedikit non golput, maka berarti makin sedikit pemilih yang harus diyakinkan. Maka makin sedikit tool yang digunakan. Makin sedikit usaha dibutuhkan untuk memenangkan pilihan.
Makin banyak golput adalah keuntungan statistik bagi pemilih non golput. Mereka berpeluang mendapat touch lebih banyak dari partai yang ujungnya juga uang lebih banyak.
Makin banyak golput tetap saja membuat para penyedia metode dan informasi makin banyak mendapat uang dari pemain. Sebab mereka makin bisa meyakinkan para pemain karena makin sedikit yang perlu dimenangkan. Namun makin banyak uang dibutuhkan untuk merebut pilihan para pemilih tetap tersebut.
Trilyunan uang sudah mulai tumpah ke rakyat pada umumnya untuk menyambut moment ini. Akan makin besar seiring waktu yang makin mendekati hari H.
Namun trilyunan lagi akan tumpah setelah moment ini berlalu. Saat ini adalah panen raya bagi para Pengacara. Ketika kekecewaan atas hasil dan proses pemilu menguasai para pemilik uang yang nekat memperkarakannya di pengadilan.
Setelah reformasi Eksekutif dan saat ini sedang berlangsung reformasi Legislatif. Maka yang ditunggu-tunggu akan tiba. Yaitu reformasi Yudikatif. Ketika para aparat hukum juga tergoda untuk menikmati pesta ini, ikut memainkan perkara, dalam jumlah yang luar biasa banyak, ini sulit dihindari, maka matanglah sudah buah reformasi Yuridis itu.
Ketika kita justru lebih mudah mereferendum UUD daripada merombak KUHAP dan KUHPerdata yang jelas-jelas warisan BW, maka kita sedang berdiri di 2 jalan yang memisah ujungnya. Kita harus memilih untuk berdiri di jalan yang mana kalo tidak mau terjengkang saat berjalan menyusurinya.
Segala penyempurnaan di atas, sampai saat ini tidak dirasakan manfaatnya yang significant ke bawah. Tidak significant untuk membentuk kehidupan bernegara yang lebih baik. Aturan Pidana dan Perdata saat ini justru lebih significant untuk menghancurkan ikatan keluarga kebangsaan negara ini. Hukum tidak lagi berfungsi mengembalikan tatanan yang lebih baik, mendidik bangsa untuk lebih tertib dan santun, namun justru menjadi hakim otoriter untuk menyatakan benar dan salah tanpa konsep membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Ketika BW dibuat, aturan itu dibuat dengan filosofi yang tidak mungkin memperbaiki penguasa. Aturan itu dibuat untuk mengatur para inlander, obyek yang berbeda dengan pemerintah penjajah. Maka jika saat ini penegakan hukum juga menyerempet para pemegang kekuasaan, maka kita masih menyebutnya sebagai oknum. Pemerintah, an sik, tidak pernah salah.
Dikotomi subyek hukum, yang merupakan warisan masa kolonial, harus dihapus. Inilah yang disebut kemerdekaan yang sesungguhnya. Pemerintah, dalam hal ini semua komponen kekuasaan, baik esekutif, legislatif dan yudikatif, adalah satu subyek dengan rakyat. Mereka adalah subyek yang sama dengan rakyat pada umumnya dalam hukum yang disepakati oleh sebaian besar rakyat. Para pelanggar disebut sebagai subyek hukum yang melawan negara, yaitu sistem kenegaraan yang disepakati oleh seluruh warga negara. Para penyelenggara negara adalah sebuah fungsi integral rakyat untuk memastikan regulasi yang disepakati dijalankan sesuai filosofi yang melatarbelakangi perancangannya. Yaitu membentuk kehidupan sosial rakyat yang lebih baik. Diketahui benar dan salah bukan untuk menghancurkan keluarga besar republik ini, namun untuk memaksa pihak yang salah memperbaiki kesalahannya dan kembali menjadi anggota keluarga besar negara kesatuan ini. Hukuman menjadi tanggungjawab yang harus dilakoni oleh pelaku karena kesalahan tindakan dan perbaikan yang harus dilakukannya. Hukum diperlakukan kepada tindakan bukan kepada orang. Negara tidak pernah membenci pelaku. Negara membenci tindakannya. Negara menghukum perilakunya, bukan orangnya. Sebab orang tersebut adalah an sig, anggota keluarga bangsa ini juga. Hukum harus berlaku pada tindakan, pada semua orang tanpa kecuali. Baik sebagai rakyat jelata, pelaku usaha, ataupun pelaksanan pemerintahan. Semua sama di mata hukum. Tidak ada hukum untuk rakyat yang berbeda dengan hukum untuk penyelenggara negara ataupun pelaku usaha. Tidak ada "tool" di ruang ini yang dapat digunakan. Hanya ada satu hukum di negara ini yang menaungi segenap warga negara termasuk penyelenggara negara.
Inilah salah satu pilihan wajah baru Indonesia yang sesungguhnya. Yang jelas, moment pemilu 2009 adalah persimpangan terakhir sebelum Sang Semesta bertindak sesuai pilihan kita tersebut. Jika kita salah memilih, maka kita akan menyaksikan kehancuran yang luarbiasa bangsa ini. Sebab sudah sedemikian banyak kesempatan dan berkah diberikan olehNya bagi bangsa ini sejak 1945. Maka moment ini menjadi saat terakhir bagi Sang Semesta untuk menentukan, apakah pinjaman yang diberikanNya akan diperpanjang atau tidak. Dia menunggu kita untuk menjawab pertanyaanNya dengan pilihan yang kita lakukan saat itu nanti.
Sang Semesta bukan penyelenggara pemilu. Golput adalah juga pilihan. Pilihan untuk cuek dan apatis. Sudah tentu pilihan itu juga diperhitungkaNya. Kalo ternya lebih banyak orang negeri ini yang memilih cuek daripada yang care, untuk apa Dia care juga dengan negeri ini? Kesudahannya akan segera tiba.

Sunday, September 14, 2008

Kapitalisme dan Lemahnya Mata Rantai

Sistem rantai yang close circuit dan dinamis. Mata rantai satu memindahkan tagihan ke mata rantai berikutnya. Pelaku menerima getah profit dari perpindahan tersebut. Dan disimpan atau digunakan untuk masuk ke close circuit lainnya, dan mendapat getah.

Circuit ini harus berjalan dan berputar. Ini hukumnya. Kesehatan setiap mata rantai sangat mempengaruhi kondisi circuit secara keseluruhan. Tiap mata rantai berperan sama pentingnya untuk menjamin perputaran ini tetap berlangsung.

Bisnis adalah lalu-lintas beban hutang. Produsen berhutang untuk explorasi dan produksi, hutang dipindahkan pada distributor dan supplier di bawahnya dengan menjual produk hasil poduksi atau explorasi, para penyalur tersebut membeli produk dengan harga jual yang diberikannya pada konsumen akhir. Konsumen akhir mendapat uang untuk membeli tangungjawab hutang dari penyalur (bonus produk) dari jasanya bekerja pada pengusaha baik produsen, penyalur dan biro jasa. Perusahaan pengusaha tersebut mendapat pinjaman bank atau pihak ketiga untuk menjadi produsen, penyalur, dan penjual. Circuit ini berputar terus. Jika ekonomi membaik, maka ada circuit-circuit baru terbentuk dari getah-getah yang didapat oleh pengusaha dan penerima gaji, yang dikumpulkan di bank.

Jika salah satu mata rantai itu kolaps, maka ambruklah bangunan kapitalisme itu. Circuit akan makin ketat jika circuit-circuit serupa terbentuk. Sehingga orang punya pilihan atas produk yang disediakan pasar.

Pasar yang berkembang dalam kapitalisme adalah bertambahnya jumlah konsumen. Makin besar konsumen makin besar getah yang bisa didapat sebagai bahan bakar circuit baru.

Kapitalisme tidak mendukung pengurangan populasi, kapitalisme justru mendorong pertumbuhan populasi sebesar-besarnya. Kebutuhan akibat pertambahan penduduk dipenuhi dengan explorasi sumber daya alam baru, apapun itu bahannya. Dan hanya itu jawabannya.

Kelelahan atau kegagalan salah satu mata rantai dapat dengan seketika melumpuhkan circuit kapitalisme. Sekalipun dalam jangka pendek, hal ini kan membuat kolaps mata rantai lainnya yang paling dekat berhubungan dengan mata rantai yang kolaps tersebut sebelumnya. Ini kelemahan terbesar kapitalisme.

Hanya oleh ketidakmampuan konsumen untuk membeli atau membayar cicilan, maka hancurlah seluruh bangunan kapitalisme itu. Kehancuran ini tidak dapat digantikan oleh hukum yang kaku. Dalam bisnis hukum harus mampu menggantikan atau meminimalkan kerugian para mata rantai. Itu yang dibutuhkan. Bukan menghukum yang berakibat justru si terhukum menjadi gagal bayar dan akhirnya justru membuat bangunan jadi ambruk.

Jika semua pelaku kredit rumahan di US dihukum karena terlambat atau tidak mampu bayar, maka hancurlah perekonomian US. Jika sebagian besar kreditor motor di Indonesia dihukum karena gagal nyicil baik dengan menarik motor (mengusir penghuni, dalam kasus kredit rumah) dan bahkan memidanakan mereka. Maka mata rantai yang terkait langsung dengan pembayaran mereka akan kolaps.

Ada pandangan yang bijak yang menyatakan bahwa menyehatkan ekonomi dalam kapitalisme adalah dengan menaikkan daya beli konsumen. Dalam keadaan normal, kemampuan itu ditentukan oleh kinerja mereka sendiri (upah jasa) yang dinilai dengan gaji yang diterima.

Perdebatan selalu terjadi dalam menentukan konsumen yang mana yang perlu mendapat suntikan langsung lebih dahulu. Konsumen mana yang perlu mendapat suntikan lebih besar sekalipun tidak lebih dahulu. Agar kepulihan maksimal didapat dengan waktu paling segera. Fresh money yang diberikan tidak serta merta berupa dollar di tangan kreditor. Konsepnya penyesuaian nilai yang dapat ditanggung oleh mata rantai terlemah dan segera merecover kegagalan bayar.

US melakukan perubahan regulasi untuk mempermudah para kreditor rumah dapat membayar tunggakannya. Perubahan ini mengambil centrum para kreditor tersebut. Jadi kemudahan dan pertolongan dapat langsung dirasakan oleh para kreditor. Regulasi juga menjamin bahwa kelebihan dana yang dinikmati oleh para kreditor rumah tersebut digunakan untuk membayar tunggakannya, bukan untuk konsumsi yang lain. Barulah gelombang perubahan regulasi bergulir ke lapis atas cisrcuit.

Konsep bijak ini, menaikkan daya beli konsumen, sangatlah beragam wujud implementasinya. Dan tidak selalu berakibat sama untuk kondisi yang berbeda.

Alih alih membahas benar atau salah metode yang digunakan, apalagi untuk Indonesia, sebenarnya ada satu cara agung yang bisa dilakukan setiap orang untuk menyehatkan mata rantai. Ingat dalam sistem ini jika satu mata rantai sakit walaupun kapitalisasinya kecil, maka cepat atau lambat, mata rantai lainnya yang memiliki kapitalisasi lebih besar akan menjadi lebih sakit dan menderita.

Donasi sebesar-besarnya ke lapis ekonomi terbawah. Terus menerus. Donasi dari getah yang didapat, bukan dari mengalokasikan donasi sebagai biaya usaha. Donasi dari getah bukan dari pelumas mesin circuit.

Politik yang Pro Apatis

Dimulai dari moment reformasi 1998, sudah sedemikian besar usaha dilakukan para pemimpin negeri ini untuk mengusahakan kehidupan bernegara yang lebih baik alih-alih kondisi terpimpin yang otoritarian pada masa sebelumnya.

Penegakan hukum begitu luarbiasa majunya menyentuh para penyelenggara negara ini, yang sebelumnya nampak untouchable. Namun jika kita teliti lebih dalam, sesungguhnya kemajuan ini belumlah fundamental.

Kita saat ini hanya melakukan upaya membawa hukum pada mereka, para koruptor dan oportunis. Kita belum membawa mereka kepada hukum.

Pengadilan umum tidak mempan pada mereka. Kita buat pengadilan tipikor. Polisi tidak mempan bagi mereka. Kita buat KPK. Kedepan, mungkin BK akan memiliki aparat dan pengadilan sendiri bagi anggotanya. Mungkin juga MK akan memilki kelengkapan untuk memejahijaukan para hakim. Bisa jadi demikian akan terjadi dengan Propam Polri, sedikit demi sedikit ngikut militer.

Saking kuatnya desakan hati, maka kita terpaksa atau sengaja memaksa diri untuk lebih baik menyusun hukum baru bagi penyelenggara negara. Berbeda dengan hukum rakyat jelata. Ternyata kita masih mewarisi filosofi pandangan dikotomis jaman feodalisme. Atau bahkan oportunisme baru.

Dikotomis, karena masih mau memandang rakyat adalah jajahan dan saat ini, setelah merdeka, penyelenggara negara adalah pengganti pemerintah kolonial. Tetap beda. Bukankah BW adalaha dasar KUHAP dan KUHPerdata?

Oportunisme baru, karena bikin baru lebih menguntungkan dari sisi financial daripada melakukan perombakan KUHAP dan KUHPerdata. Ada duit fresh kalo bikin lembaga baru, bagi pemegang keputusan.

Kita akan punya 2 hukum utama berdasarkan subyek hukum. Meniru militer masa lalu yang memiliki pengadilan sendiri bagi anggotanya. Bahkan 3 hukum utama jika pengadilan militer dimasukkan.

Hebat. Bangsa ini berwajah 3 dimata Sang Semesta dan Dunia. Akan tiba saatnya wajah-wajah itu akan saling cemberut satu sama lain dan membingungkan Sang Semesta dan Dunia dalam memahami respon bangsa ini atas sesuatu yang terjadi.

Akan tiba saatnya Sang Semesta dan Dunia akan habis kesabarannya untuk berusaha mengerti maksud bangsa ini. Pada saat itu Dunia akan mengadu domba tiap wajah dengan wajah yang lain. Dan Sang Semesta akan membuatkan wajah baru yang satu, dengan melepas ketiga wajah sebelumnya, atau meniadakan entitas bangsa ini. Bisa berarti perang saudara, pendudukan, atau negara dalam mandat UN yang dimiliki bersama oleh dunia, bisa berarti pemimpin otoriter baru yang berfungsi sebagai gubernur jendralnya UN, atau bisa juga negara federasi baru dengan pemimpin kolektif yang bergilir.

Sampai kapan bangsa ini dibiarkan memerah susunya sendiri untuk diminum sendiri? Sampai kapan bangsa ini bermasturbasi dan membuat jijik Sang Semesta?

Bahkan para pemilih pro apatis memilki doktrin hidup berpolitik begini: Ngapain menggunakan hak suara? Biarkan suara saya dimiliki oleh yang memperoleh suara terbanyak. Nanti kalo kebijakannya ndak sesuai, ya, kita demo ramai-ramai, kalo perlu agak anarkis biar kebijakan itu diubah. Toh selama ini kan juga begitu? Penyelenggara negara baru perhatian dan bergerak kalo ada demo massal? Baru bergerak setelah timbul masalah. Kebijakan digerakkan oleh demo dan desakan, bukan oleh nurani, kebijaksaan dan kepandaian. Jadi buat apa menggunakan hak suara? Capek-capek milih, eh regulasi dan visi yang disepakati ternyata bisa berubah di tengah jalan karena demo oleh kelompok masyarakat yang lain. Okelah, bisa saja ke TPS, asal ada duit. Ganti ongkos transport dan kerugian karena ndak bisa ngobyek seperti hari biasa.

Demikianlah atmosfer ini begitu kental terasa menjelang pemilu 2009. Walaupun rangkaian pemilihan langsung setelah pemilu bakal dikurangi sesuai regulasi baru. Apakah bangsa ini sudah memilih untuk meneruskan masturbasi-nya?

Sang Semesta dan mata buas dunia sedang memusatkan pandangannya pada bangsa ini, bersiap menjatuhkan hukuman dan mencabik cabik kemolekan tubuhnya.

Pasrah = Usaha yang Masuk Akal + Tidak Masuk Akal

Ada 2 orang yang karena sesuatu hal harus lari. Dalam pelariannya, masing-masing dalam jalannya, mereka menemui jalan buntu. Ada tembok menjulang di hadapan mereka. Mereka tidak mungkin kembali kalo pengen selamat. Dan mereka harus sampai tujuan sebelum fajar tiba.

Yang satu berpikir keras. Dia mencari cara bagaimana dia dapat melewati tembok ini. Dia tidak mungkin memanjat tembok ini. Tentu dia harus menghancurkannya. Maka dicarinya palu besar untuk menghancurkan tembok. Dicarinya palu kesana kemari. Tidak ditemui. Dicarinya batu besar, tidak ada.  Dia terus mencari alat bantu. Dia tidak mau menyerah. Sementara waktu berlalu.

Yang lainnya, di jalan yang lain, dan menghadapi persoalan yang sama, juga berpikir keras. Diapun melakukan hal yang sama. Dia mencari alat bantu. Bagaimana dia bisa menembus tembok ini tepat waktu sebelum fajar tiba. Sementara waktupun berlalu.

Sampai menjelang fajar, Si A tetap berusaha mencari alat bantu. Ada keyakinan, tentu ada mukjizat, sehingga sekalipun sudah menjelang fajar, pada saat terakhir dia akan menemukan alat yang cukup kuat untuk menghancurkan tembok dalam hitungan detik. Dia pergi ke sana kemari, tidak lupa dia mencari makanan agar menjadi cukup kuat menghancurkan tembok nanti.

Si B sadar, dia tidak perkirakan bakal mungkin dapat tembok di ujung jalan, sehingga, saat berlari tadi, di tidak melihat kekiri dan kekanan untuk mencari alat apapun. Dia tertunduk di bawah tembok, menyadari kesalahannya. Dia mulai menangis dalam hati. Dilihatnya sepotong carang pohon di dekat kakinya. Diambilnya dalam kesedihan, dan berkata pada Tuhan; "Jangan kiranya Engkau melihatku tanpa usaha hingga detik terakhir hidupku, sekalipun usahaku adalah sia-sia." Lalu dia mulai mencungkili tembok dengan ranting itu dengan hati hancur. Tentu pekerjaan yang sia-sia.

Hari sudah fajar, SI A menyerah. Dia mati dalam usahanya mencari alat bantu. Dimana SI B? Dia sudah ada di garis finish dengan selamat. Bagaimana mungkin?

Ternyata, tembok itu tidak setebal sangkanya, cungkilan keputusasaan yang dilakukannya ternyata berhasil menembus bagian terlemah tembok tersebut. Bagian tembok yang dicungkilinya sedikit demi sedikit ternyata tipis dan rapuh. Maka dia berhasil melubangi tembok itu dan dengan tangannya dia dapat sedikit demi sedikit menaggalkan batu bata hingga kepala dan pundaknya bisa masuk lubang yang dibuatnya. Karena penyesalan yang mendalam atas kesalahannya, maka sejak mulai mencungkil dia tidak lagi mau mencari makan sehingga tubuhnya cukup kurus untuk melewati lubang tembok itu.

Si A tipikal pekerja keras dan tidak mudah putus asa. Kesalahannya hanya satu. Yaitu menyandarkan keputusannya hanya atas pertimbangan dan penglihatannya sendiri. Orang demikian sangat rendah hati, karena kemauannya yang keras dan tanpa malu, dan begitu percaya diri menjalankan resiko pemahamannya sendiri tanpa takut pada batasan apapun. Dia hanya lupa bahwa banyak hal, bahkan sebagian besar yang nampak di matanya sesungguhnya tidak seperti nampaknya. Pada saat yang sama orang seperti ini sesungguhnya amat sangat sombong karena begitu percaya diri dan merasa memiliki nasibnya.

Si B sama halnya seperti Si A. Kelebihannya hanya satu. Di saat yang sama dia mampu merasakan keterbatasannya. Di saat yang sama dia mampu melepaskan dirinya dan membiarkan nuraninya menyerah pada Sang Semesta. Ketika sampai di garis finish, orang seperti ini meyakini dalam dirinya bahwa semua keberhasilannya sama sekali bukan didasari oleh kerjakerasnya, namun justru karena 100% anugerah Sang Semesta.

Kita sering sibuk mencari jalan keluar dan 100% percaya jalan keluar akan muncul dari usaha-usaha kita tersebut. Kita menjadi lega jika ada kemungkinan-kemungkinan jalan keluar yang bisa kita coba, jika tiba saatnya masalah yang kita duga sebelumnya, muncul.

Kita sering berkata berdoa sambil bekerja. Integrasi yang dilakukan adalah berdoa agar harapan kita, baik itu rencana maupun solusi tercapai dan terselesaikan. Dengan cara yang kita minta. Dengan cara yang sudah kita duga-duga kemungkinannya. Kita memandang bahwa Sang Semesta hanya person penandatangan cek berkah yang kita minta. Kita hanya berdoa untuk memohon Dia menandatanganinya. Kita memaksa Sang Semesta setuju dengan definisi keberhasilan dan kesuksesan yang kita buat. Kita memaksaNya setuju dengan path yang sudah kita rencanakan.

Padahal karena kita tidak pernah belajar tentang hidup sebelum kita dilahirkan, Sang Semesta tahu, manusia pasti akan gagal mencapai impiannya tanpa campur tanganNya. Sang Semesta hanya menghendaki manusia berusaha sekeras keras memanfaatkan akal budinya, namun di saat yang sama juga Sang Semesta ingin manusia menyadari keterbatasan dan bergantung 100% padaNya dengan memberi jalan keluar tak terduga, yang justru berasal dari path diluar kemungkinan yang bisa diduga dan direncanakan manusia. Jika manusia tidak pernah berusaha dan cepat menyerah, solusi itu tidak akan muncul. Namun jika usaha tidak didasarkan pada kesadaran hakiki campur tangan Sang Semesta, maka solusi juga tidak akan pernah muncul.

Sudah saatnya moto Ora et Labora diubah menjadi Bersyukur dan Pasrah. 

Karena syukur, orang mampu melakukan hal-hal sulit tanpa pamrih kepentingan diri sendiri. Semua tugas dan pekerjaan dipandang sebagai sarana mengucap syukur atas hidup yang diberi.
Karena pasrah, orang tidak memandang remeh segala hal yang melintas di hadapannya. Dan mampu melihat adanya kemungkinan dibalik apa yang nampak. Maka dengan segala daya upaya, bahkan walaupun nampak mustahil dan jauh dari path logika, kita dengan senang hati mencobanya tanpa bersungut-sungut.

Maka jalan keluar akan diberikan, dan membuat kita makin mengagungkan NamaNya. Itulah doa yang disukainya dari kita, pujian dan ucapan syukur, bukan keluh kesah dan permintaan.

Merely Pray

We cannot merely pray to You, O God, to end war, for we know that You have made the world in a way that man must find his own path to peace, within himself and with his neighbor.

We cannot merely pray to You, O God, to end starvation, for You have already given us the resources, with which to feed the entire the world.

We cannot merely pray to You, O God, to root our prejudice, for You have already given us eyes, with which to see the good in all men, if we would only use them rightly.

We cannot merely pray to You, O God, to end despair, for You have already given us the power, to clear away slums and to give hope, if we would only use our power justly.

We cannot merely pray to You, O God, to end disease, for You have already given us great minds, with which to search out cures and healing, if we would only use them constructively.

Therefore we pray to You instead, O God, for strength, determination and will power, to do, instead of just pray, to become, instead of merely to wish.

Ini bukan doa saya, ini doa seorang Rabbi, yang karena kebenaran isinya, sayapun meng-Amin-inya.

Sunday, August 24, 2008

Artis Lebih Baik ?

Actress, pekerja seni. Di Indonesia konotasi artis dan seniman sangatlah berbeda. Artis lebih dekat ke celebritis sedang seniman lebih mengarah ke pelawak, peludruk, peteater dll.

Artis jadi pejabat. Jadi Anggota DPR Pusat, Bupati, Gubernur, Wagub, Wabup, anggota DPRD, Caleg. Fenomena yang mengesankan di jagad perpolitikan negeri ini, sejak pemilu 2004.

Kenapa Artis? Kenapa bukan pekerja seni? Kenapa bukan buruh? Kenapa bukan petani? Kenapa bukan pekerja? Saya hanya menduga-duga dari dua sudut pandang, kenapa hanya 2, itu disebabkan karena dugaan saya pula bahwa kekuatan sesungguhnya yang mengendalikan kekuasaan adalah mereka ini.

1. OPORTUNISER

Dari sisi para oportunistik di sekitar kekuasaan, yang jauh lebih berkuasa dan pintar berkelit dan survive ditengah gempuran aturan dan pengawasan. Orang-orang cerdik yang bisanya hanya bersiasat mengendalikan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri. Bagi mereka, Artis memberi keuntungan ganda bagi karier dan kelangsungan hidupnya sendiri. Artis punya banyak fans dan memiliki wajah yang familier karena sering muncul di media. Orang desa lebih kenal Dorce daripada Agung Laksono, misalnya. Kedua, Artis, karena sifat pekerjaannya, maka mereka tidak lebih pandai berpolitik dan mengatur masalah ketatanegaraan dibanding para oportuniser. Maka para Artis lebih mudah ditipu dengan usulan dan program-program pembangunan yang nampaknya baik bagi rakyat, namun ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan para oportuniser sendiri. Mereka (para oportuniser) jadi lebih mudah melakukan hit and run untuk mengambil keuntungan, sementara tanggungjawab keputusan dilemparkan pada pundak si Artis pemimpin. Artis mudah dijadikan kambing hitam karena kebodohannya dalam dunia politik. Pengalaman mereka nol kilometer. Nurani saja akan tidak cukup kuat bertahan di tengah-tengah tikus-tikus rakus berbau busuk yang dulunya membantunya naik ke puncak kekuasaan berkedok hamster imut. Artis lebih mudah dimanfaatkan dan dijadikan kambing hitam untuk mengambil keuntungan dan meloloskan diri dari kemungkinan jeratan hukum suatu hari nanti. Ngeri kalo punya atasan seperti Bagir Manan. Pintar cari tambahan dan memanfaatkan orang sekaligus pintar berkelit dari jebakan.

2. RAKYAT TAK TERDIDIK

Tak terdidik di sini dimaksudkan adalah mereka yang tidak cukup mendapat pendidikan politik yang memadai dari negara dan lingkungan. Mereka adalah bagian mayoritas dari pemilih pada umumnya. Setelah merasa banyak dipinteri oleh orang-orang pinter di atas sana, mereka jadi apatis memandang calon yang terdidik. Terdidik di sini dimaksudkan adalah calon-calon yang melek politik sejak mudanya, tidak harus berpendidikan kelewat tinggi, namun mereka paham bagaimana membujuk dan merayu rakyat. Di mata mereka, Artis lebih bersih dan suci dibanding para politikus kawakan. Bahkan dibanding orang-orang pinter dari dunia akademik. Sesuai sifat pekerjaannya, artis diharapkan menjadikan rakyat sebagai pusat perhatian. Artis biasa mendedikasikan dirinya untuk menghibur pemirsa atau audience-nya. Mereka tidak dirancang untuk mengambil keuntungan dari fansnya. Mereka dituntut dapat memuaskan para penonton, kalo tidak mau hancur kariernya. Hal inilah yang menimbulkan penilaian bahwa Artis lebih bernurani dari politisi. Kalo Artis ini jahat, setidaknya mereka tidak lebih pinter berbuat jahat daripada para politikus. Kalo mereka gagal mensejahterakan rakyat, itu juga tidak jauh beda dari kinerja para politisi. Setidaknya ada penyegaran dan kemungkinan perubahan yang lebih baik, daripada mempercayakan kepemimpinan pada politikus yang sudah buram nama baiknya.

Kita pernah dipimpin Insinyur, jendral bintang lima, professor dari akademisi, kyai hebat, lulusan sma, doktor pertanian, dengan para pengusaha di sela-selanya. Semuanya belum maksimal membawa negeri ini menjadi memiliki harga diri yang pantas dan memadai, baik terhadap dirinya sendiri maupun dunia. Setelah semuanya yang dianggap pantas memimpin memperoleh kesempatannya, bukankah adil jika rakyat merasa sudah saatnya orang dari dunia seni, mungkin lebih tepat dari dunia entertain dan showbiz mendapat kesempatan yang sama untuk memimpin negeri ini? Mungkin nanti akan juga tiba saatnya mereka yang berusia muda-belia juga mendapat gilirannya untuk berperan memajukan negeri ini.

Yang tidak disadari oleh semuanya, bahwasannya kita semua sesungguhnya sudah merasa enjoy dengan kenyataan bahwa kepemimpinan dan kekuasanan di negara ini sebenarnya adalah lakon ketoprak, dan republik ini sesungguhnya hanyalah panggung pertunjukan. Kita sedang umek bermain peran dan menghibur diri sendiri.

Friday, August 1, 2008

Pembunuh dan Terbunuh

Pembunuh berantai. Kata ini bisa berarti seorang pembunuh yang membunuh banyak orang bergiliran. Tapi orang Malaysia bisa mengartikannya sebagai seorang pembunuh yang menggunakan rantai untuk membunuh korbannya. Tentu dia mengacu pada ungkapan Koruptor Berdasi atau Ayam Bertaji.

Pada saat yang hampir sama ada kabar 18 orang mati karena pesta miras akibat oplosan yang tidak ilmiah. Bagaimana bisa berpikir ilmiah kalo mabuk?

Beda dua peristiwa yang buruk itu apa? Saya mencoba melihat dari akibatnya saja.

Even dari seorang pembunuh kita masih bisa melihat sisi positifnya. Tapi tidak untuk orang yang konyol dan bodoh yang berakibat bunuh diri.

Ratusan orang mendapat hidup dari kematian. Puluhan pedagang dapat kembali menghidupi anak-istri mereka dari orang2 yang datang ke rumah Ryan sang penjagal psikopat. Mungkin beberapa pejabat kepolisian di Jombang dan Polda Jatim akan naik pangkat karena terbongkarnya kasus ini. Banyak tetangga keluarga 11 korban yang bisa makan enak karena ada tahlilan atau kebaktian di rumah keluarga korban. Kalo di sana ada karcis parkir, Pemkab Jombang dapat pemasukan baru dari retribusi parkir di sekitar rumah ortu Ryan. Televisi yang menayangkan secara lengkap dan berseri kisah ini mendapat kenaikan rating. Berapa banyak orang TV dan Media Massa terjaga nasibnya dengan adanya berita kekejian ini? Belum kalo disebutkan kenaikan trayek bus dan angkutan umum menuju Jombang dan Jati Wates. Sopir2 batal demo karena kenaikan BBM dan rebutan trayek. Tak terbayangkan sebelumnya oleh para keluarga korban, mendapat kesempatan nampang di TV atau Media lain, bahkan sesungguhnya dapat menjual kisahnya ke Media sebagai ganti ongkos tahlilan. Saat ini tentu berkerumun para penulis2 yang tertarik mendokumentasikan kisah langka ini dalam sebuah buku dan menjualnya. Para penerbit mungkin sudah mengirim agen2 untuk menjajagi kemungkinan menerbitkan buku kisah pembunuhan ini dan meramalkan akan jadi best seller di kemudian hari. Ortu Ryan dan keluarga korban tentu tak pernah membayangkan bakal dapat pensiunan gratis dari royalti penjualan buku kisah pembunuhan Ryan, kecuali penulis bukunya koruptif. Jangan kaget kalo tiba2 jalan desa yang tak beraspal dan rusak kemudian jadi beraspal atau diperbaiki, pembangunan berjalan cepat di Jati Wates.

Masih ada hal positif dari kebiadaban ini yang bisa dinikmati orang lain.

Adakah hal positif, akibat dari terbunuhnya 18 nelayan di Sulawesi karena mabuk miras? Yang dirasakan langsung oleh orang2 disekitarnya bahkan yang tidak mengenalnya? Mungkin lebih baik mereka mati dibunuh oleh Ryan daripada mati karena pesta miras. Supaya mereka masih bisa diingat terkait dengan sebuah peristiwa langka dan namanya tercetak di buku2 best seller kisah2 pembunuhan yang langka di Indonesia.

Kematian oleh kesenangan yang didefinisikan sendiri tidak membawa nilai lebih bagi bumi. Tidak ada manusia yang mau mati karena dibunuh. Tapi begitu sia2nya hidup jika dia tidak memiliki dan memainkan peran apapun dalam interaksinya dengan manusia lain pada saat akhir masa hidupnya?

Itu sebabnya mungkin, Tuhan sangat membenci orang bunuh diri dan orang bodoh yang membiarkan dirinya dikuasai lingkungan dengan sukarela seperti 18 nelayan itu. Adam dibuang karena kesukarelaanya menerima saran Hawa dan menuruti bujukan ular si iblis.

Virus, ciptaan Tuhan termaju

Sampai hari ini saya masih kagum dan heran dengan apa yang namanya virus. Bukan virus komputer (walaupun itu juga kadang mengherankan). Mulai SD di pelajaran ilmu hayat sampai hari ini.

Letaknya di tangga evolusi masih diperdebatkan sampai saat ini. Dia tidak bisa disebut tumbuhan renik seperti bakteri. Bukan pula hewan seperti protozoa. Tidak punya ciri-ciri hidup yang lengkap. Hidup hanya kalo nempel jasad hidup. Mati kalo ndak ada induk semang. Cuma api yang menghanguskan saja yang bisa membunuhnya. Udara tidak penting untuk kelangsungan hidup spora. Air boleh ada atau tidak baginya.

Ada materi organik mati, lalu benda organik setengah hidup (virus), lalu benda organik hidup yang bisa mati. Nampaknya cocok virus jadi perantara antara evolusi organik mati ke organik hidup. Bahkan ada virus yang hanya berisi RNA tanpa DNA. Jadi nampaknya cocok dari mahluk RNA jadi mahluk dengan RNA dan DNA, kemudian jadi sel tunggal hidup, lalu jadi organisme kompleks, dan seterusnya jadi manusia.

Tapi, kenyataanya tentu tidak demikian. Bagaimana dia bisa berevolusi jadi sel kalo tidak ada sel sebelumnya yang bisa diinfeksi dan jadi media replikasi? Mutasi terjadi pada jasad hidup. tidak pada saat dia jadi cysta. Bagaimana virus yang hanya hanya ber-RNA bisa mensintesis DNA bagi dirinya kalo tidak ada DNA mahluk lain yang dijadikan bahan? Kenyataannya tidak ada virus dapat menginfeksi virus species lain. Manusia tidak mungkin diinfeksi lebih dari 1 virus yang bisa menyebabkan kematian. Sepertinya mereka punya kode etik sendiri antar species. Pendatang pertama adalah pemenang, dia baru minggir jika induk semang berhasil mengusir atau men-spora-kannya (tidak menghancurkan), kemudian memberi jalan pada virus lain, bisa hasil mutasi atau species lain yang lebih kuat untuk mengambil alih dominasi atas induk semang atau organ, yang jelas hanya satu untuk satu penyakit atau organ. Tidak mungkin satu kamar untuk berdua. Ini jadi inspirasi para pembuat serum yang tujuannya memberi info pada pendatang baru virus, bahwa sudah ada penghuni di tubuh induk semang, jangan masuk. Bahkan antivirus komputer model baru melakukan serumisasi seperti itu untuk mencegah virus beneran meng-infek.

Dia tidak berevolusi dari organik mati. Dia berevolusi dari organik kompleks. Dan tetap menjadi virus dengan RNA dan atau DNA tunggal. Dia hanya berkembang biak, berkembang biak secepat dan sebanyak mungkin sampai sumber daya yang dibutuhkan dari induk semang habis tuntas. Mensintesis DNA target agar memberi pintu baginya untuk masuk dan mengambil alih mesin replikasi sel hidup. Sama sekali tidak punya metode adaptasi dan berburu untuk makan dan atau menjadi dominan.

Tidak ada mahluk hidup yang tidak bisa punah oleh keserakahan manusia. Virus mampu melakukannya tanpa perencanaan dan metode. Bahkan virus dapat menghabiskan manusia. Bahkan bukan dirinya sendiri yang mendorongnya bermutasi. Justru pure oleh alam akibat ekosistem yang berubah dan terganggu atau kimia obat2an yang digunakan manusia. Dia bermutasi kalo induk semang meminta atau mendorongnya. Intinya dia memiliki daya perusak yang lebih besar dari manusia. Dan manusia tidak pernah menemukan metode yang tepat membasminya. Manusia hanya dapat menekan penyebarannya. Tidak memunahkannya. Virus tidak memiliki alasan apapun untuk menghancurkan. Dia juga tidak tahu kalo dia menghancurkan. Membunuh tanpa tujuan. Dia tidak perlu makan. Dia mungkin justru punya tujuan baik untuk melestarikan speciesnya sendiri. Fungsi RNA-DNA-nya hanya replikasi, selesai.

Mungkinkah dia mahluk terakhir yang diciptakan Tuhan? Untuk membuat manusia tidak terlalu sombong? Bukankah tidak ada kitab suci yang menyanggah kemungkinan ini?

Sunday, May 25, 2008

Wawasan dan Kesadaran



Sebatas apakah wawasan itu dibentangkan dan dikejar untuk mendapat kedalaman kesadaran yang hakiki, sebagai bagian kecil dari semesta Sang Pencipta ?