Krisis Global mungkin belum akan segera reda, menyusul turunnya harga minyak dan bailout pemerintah negara2 maju pada swata.
Mereka yang kehilangan banyak tidak malah bertobat dari ketamakannya, namun justru mencari cara untuk mengembalikan kerugian yang dialaminya dengan segala cara dan secepat-cepatnya.
Mereka yang menikmati naiknya harga minyak, benar-benar kecewa dengan penurunan harga minyak yang tiba2, membuyarkan proyek-proyek prestisius di negaranya masing-masing, dan membatasi gaya hidup mewah dan sombong mereka.
Uang rakyat dipakai untuk menutup kerugian pengusaha raksasa. Rakyat sendiri dipaksa menelan harga barang yang mahal akibat harga minyak yang akan naik sebentar lagi, menyusul konflik di Timur Tengah.
Pemerintah negara-negara berkembang akan benar-benar kehabisan uang. Mereka bukan negara surplus minyak, bahkan hanya konsumen. Namun kerugian perusahaan swasta di negaranya membawa dampak buruk pada kestabilan politik dan keamanan akibat meningkatnya pengangguran dan makin tak terjangkaunya harga barang-barang, ujung-ujungnya produk manufaktur dan dagang tak terserap pasar dan tak laku dilempar keluar.
Penerima Bailout justru tidak sungguh-sunguh jatuh miskin, karena hanya kehilangan beberapa portofolionya, sementara mereka masih dapat makan enak dan tidur nyenyak.
Seharusnya ada revolusi bersama antara pemerintah negara2 di dunia ini untuk membentuk aturan bersama mencegah pasar jatuh kembali dalam sikap greedy yang keterlaluan. Tapi nyatanya itu tidak dilakukan.
Batas kedalaman dan keamanan perdagangan derivative sama sekali tidak tersentuh pembahasan para pemimpin tersebut. Transaksi yang merupakan refleksi ketamakan itu tidak diantisipasi. Ini hanya gejolak kecil, tidak terlalu berpengaruh pada sektor riil. Pembicaraan hanya seputar bagaimana kerugian tidak makin besar. Tanpa pertobatan atas penyebab riil kerugian tersebut.
Mereka bertemu untuk membicarakan bagaimana mereka bekerja sama untuk menyelamatkan negaranya masing-masing. Bagaimana agar upaya masing-masing negara tidak mendapat batu sandungan dari negara lain dalam bidang perdaganngan antar negara.
Mereka bertemu untuk membahas arah lari masing-masing negara agar tidak saling tubrukan ketika bola salju krisis menggelinding dengan gemuruh ke arah mereka.
Mereka tidak bertemu untuk menghancurkan atau menghentikan atau setidaknya membelokkan bola salju krisis ini. Mereka tidak berupaya menghentikan bola salju itu bersama-sama. Mereka sedang lotre memilih lokasi, dimana mereka sebaiknya berada dibawah bola salju itu, agar tidak saling gencet satu sama lain dan berusaha memilih tempat se-minggir mungkin pada jalur bola salju itu.
Iya, kalo bola salju krisi ini mengelinding terus setelah menghantam kita. Hla, kalo berhenti dan hancur saat bola ini ada di atas kita, bagaimana? Siapa bisa jamin dia akan terus mnggelinding dan kita hanya perlu menahan nafas sebentar saja, sampai krisis itu lewat?
